See.
Memilikimu seperti menggenggam pasir, aku menguatkan
kepalan tanganku tapi butiran itu menyakitiku, aku membuka kepalan tanganku
tapi angin menerbangkannya. Salahku menemukanmu, salahku melihatmu, salahku
memilihmu, salahku…
oOo
“Buang bunga Dandelion yang sudah mengering di tempat
sampah, kita tidak membutuhkan mereka untuk dipajang di tenant karnaval.”
“Baik.”
Gadis casual
berbaju hitam memondong seikat bunga Dandelion
kering dan membuangnya di tempat sampah tanpa harapan akan diambil kembali.
Satu minggu ini dia menjadi pegawai baru di toko bunga yang menjanjikan gaji
menggiurkan. Akhirnya ia mendapatkan pekerjaan yang ‘layak’ setelah
berminggu-minggu mencari. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk bekerja keras
dan tak mengecewakan siapapun. Setelah menjatuhkan sampah ke tempatnya, ia
menepuk-nepuk kedua telapak tangannya agar kotoran dan debu dari bunga kering
menyingkir darinya, lalu ia berjalan hendak kembali ke dalam toko sebelum
matanya melihat seorang gadis dari toko permen yang berjarak beberapa meter
dari tokonya tengah berbicara dengan seorang laki-laki tinggi. Hmm
laki-laki itu lumayan. Sayup-sayup Chezy bisa mendengar suara gadis itu
sedang berbicara. “Ayolah, berikan saja nomor telfonmu, temanku tergila-gila
padamu. Tiga hari lagi aku dan dia akan dipindahkan ke luar kota. Kau tidak
kasihan padanya?” Ya ampun gadis itu. Chezy memutarkan bola matanya dengan malas
melihat bagaimana seorang gadis yang sepertinya sangat tidak pantas
memohon-mohon dan mengejar seorang laki-laki hanya untuk sederet nomor telfon,
dan bukan untuk dirinya sendiri—untuk orang lain yang katanya adalah temannya.
“Aku tidak
punya ponsel.” Jawab pria itu dingin sembari memasukkan permen batang ke dalam
mulutnya. Laki-laki itu berjalan meninggalkan gadis penjual permen, tidak
peduli dan menoleh sedikitpun walaupun namanya dipanggil berulang-ulang oleh
gadis yang sepertinya adalah ‘fans’nya. Saat melewati Chezy laki-laki itu
tersenyum sebagai pengganti ‘sapaan’ mungkin karena mulutnya tengah tersumpal
sebuah permen batang, Chezy hanya membalas dengan senyum simpul. Ia melihat
laki-laki itu mengarahkan Ibu jarinya ke belakang lalu menggelengkan kepalanya
seperti mengadukan gadis ‘pengganggu’ itu kepada Chezy, lalu Chezy lebih
melebarkan sedikit senyumnya dan menampakkan deretan gigi depannya. Laki-laki
itu melenggang pergi dengan acuh, sementara gadis penjual permen masih berdiri
di depan tokonya dengan membawa sebuah sapu, mata keduanya bertemu lalu si
gadis permen tersenyum pada Chezy, ia melihat gadis itu berbicara tanpa suara
kepadanya dari kejauhan dan Chezy berusaha mengartikan bentuk mulutnya. Laki-laki-itu-sombong-dan-sok-keren-tapi-dia-tampan.
Itu yang diucapkan gadis permen, lalu ia melanjutkan temanku-menyukainya. Oh, bertingkah jalang untuk menyenangkan
temannya? Sahabat yang baik atau sahabat yang bodoh? Chezy tersenyum
dan berkata bahwa ia harus masuk ke dalam dan kembali pada pekerjaannya. Gadis
permen yang bodoh itu mengangguk senyum tanda setuju. Setidaknya gadis itu
‘baik’.
Keesokan
harinya,
“Istirahat
satu jam kedepan semuanya.” Teriak Ellisa yang mana ia adalah kepala toko bunga
ini. Well, Sunshine adalah nama toko bunga ini. Ellisa, gadis muda yang
terkadang Chezy berpikir bahwa ia adalah seorang yang kolot dan sangat
disiplin. Terkadang Chezy jengkel dengan gadis itu, tapi setidaknya ia partner
kerja yang baik. “Chezy, bisakah kau order Latte yang dalamnya di beri batu es
untuk semua yang ada disini?” Chezy tersenyum dan menerima beberapa lembar uang
untuk order beberapa minuman di sebuah Café yang ada di seberang jalan depan
tokonya. Coffe Boy tak terlalu ramai, mungkin orderanku akan cepat dilayani.
Chezy
berjalan-jalan kecil di muka pintu Cafe Coffe Boy sembari menunggu pesanannya
sedang dibuat, ia melihat gadis permen dan si laki-laki tempo hari sedang
bercakap sesuatu, ia menghampiri tanpa bermaksud ikut bergabung dalam
percakapan -yang sepertinya membosankan- mereka.
“Ayo berikan saja nomor ponselmu,
temanku masih menyukaimu. Kau tidak lihat bagaimana ia mencuri-curi pandang
saat kau lewat di depan toko kami.” Oh ya ampun, masih berlanjut ternyata.
“Aku tidak
melihat.” Jawabnya sedingin dasar laut. Saat Chezy berada di sebelah gadis itu
untuk melihat beberapa jajaran toples permen yang dipajang gadis itu tiba-tiba
merangkul dan menggandeng lengan Chezy. “Lihat kak bagaimana bisa dia sesombong
itu!” Adunya pada Chezy dan si laki-laki hanya tersenyum sok keren. Laki-laki
itu melipat kedua tangan di depan dadanya dan bergaya bak model yang sedang dipotret
membuat Chezy dan gadis itu menahan tawa sebentar tapi tidak berhasil, keduanya
tertawa karena melihat kelakuan lucu dari seorang laki-laki dingin seperti dia.
Chezy menirukan bagaimana laki-laki itu bergaya lalu ketiganya kembali tertawa
bersama, sebenarnya Chezy adalah gadis humoris dan ceria.
“Sok keren
sekali! Hahaha.” Chezy menirukan gayanya lagi.
“Nona! Pesanan
kopimu!” Seorang laki-laki yang mana adalah pegawai berdiri di depan pintu kedai
Coffe Boy dan memanggil Chezy guna orderannya. Chezy datang dan menerima dua
kantung plastic transparan berisis beberapa gelas Ice Coffe, dia melambaikan
tangannya pada dua orang yang tiba-tiba sudah akrab dengannya dalam waktu
beberapa menit yang lalu dan segera kembali pada tempat bekerjanya. Chezy
datang dan disambut antusias oleh teman-teman satu kerjanya –mungkin yang
disambut adalah barang bawaannya, bukan Chezy-. Karena ini adalah jam istirahat
Chezy memutuskan untuk keluar dari ruangan ini, membuka kenop pintu toko dan
segelintir angin menyapa rambut coklat cola miliknya. Ia menyeruput pelan kopi
dingin yang ada di genggamannya dan melihat sekelilingnya, dia suka dengan
pekerjaannya, sebentar lagi ia akan dipindahkan pada bagian karnaval selama
kurang lebih satu minggu. Harus ada seseorang yang menemani Paman Nick di
tenant karnaval, jika acara tahunan itu sudah selesai ia akan kembali lagi di
toko besar ini.
“Melamun!”
Suara seseorang membawa Chezy pada dunia nyata yang sedang berputar.
“Oh, si
laki-laki sok keren.” Balas sapa Chezy dengan senyumnya.
“Jam
istirahat?”
“Hmm..” Angguk
Chezy.
“Anyway, namamu Chezy kan? Empat
bersaudara?”
“Ha?” Siapa
dia?
“Kau lulus
sekolah dua tahun yang lalu?”
“Bagaimana
bisa-“ Sebenarnya dia siapa?
“Rumahmu
lumayan jauhlah dari sini, perjalanannya mungkin sekitar lima belas menit atau
lebih.”
“Bagaimana
bisa kau tau aku sejauh itu? Kita pernah kenal? Atau kau kakak kelasku dulu di
sekolah? Bagaimana-“
“Kita tidak
pernah kenal kan sebelumnya? Kita pernah bertemu sebelumnya? Tidak kan? Hari
ini kan kita pertama kali bertemu?” Iya, tapi…
“Tapi
bagaimana bisa-“ Laki-laki itu tersenyum misterius dan mulai berjalan menjauhi
Chezy. “Hei!” Laki-laki itu tetap berjalan menjauh, tiga meter lurus di tempat
Chezy berdiri laki-laki itu membalikkan badannya.
“Namaku Alan.”
Dia tersenyum. Alan?
oOo
Chezy menyapu
lantai tokonya sesekali melihat ke arah luar, kaca besar yang bisa dilihat dari
dua sisi pengganti tembok berdampingan dengan pintu satu-satunya jalan
alternative keluar masuk tokonya. Dia melihat seseorang yang tiba-tiba menjadi
sosok yang membuatnya sangat penasaran berjalan melewati tokonya beberapa kali.
Laki-laki itu pasti menoleh dan menusukkan pandangannya tepat ke mata Chezy. Apa
salahku?
“Kakak, dia…”
Chezy memanggil seniornya yang sedang membawa seikat Sunflower di dekapannya,
Ellisa mengikuti arah mata pandangan Chezy.
“Alan? Dia
hanya seorang pengangguran muda yang tampan. Setiap hari pekerjaannya hanya
mengelilingi deretan toko dan membeli ini itu. Mungkin sepertinya dia bekerja
tapi tak ada seorangpun yang tau apa pekerjaannya. Jika tidak, bagaimana bisa
dia setiap tiga hari sekali membeli beberapa kilo daging di toko daging yang
ada di tikungan itu?” Chezy mengangguk mengerti –mungkin tidak sepenuhnya
mengerti-. Ini sudah hari ketiga sejak laki-laki itu seperti menebak asal
biodata Chezy tapi seluruhnya benar, Chezy melihat bagaimana laki-laki itu
tersenyum setiap kali mata keduanya bertemu. Dia tidak takut tapi hanya
penasaran, bukan, sangat penasaran. Jika diingat-ingat wajah pria itu tak pernah
sekalipun Chezy mempunyai kakak kelas atau teman atau ‘teman kencan buta’ yang
memiliki wajah seperti laki-laki yang katanya bernama Alan itu. Chezy masih
berusaha mengingat-ingat siapa Alan sebenarnya, tapi dia tidak pernah menemukan
jawaban. Putus asa, Chezy membiarkan semua mengalir dengan sendirinya.
Membawa satu
keranjang penuh sampah bunga kering membuat Chezy sedikit kesusahan, dia
berjalan ke depan toko untuk menyatukan tumpukan bunga kering di tempat sampah.
Selesai dengan itu ia mengusap peluhnya yang sebesar biji jagung melewati
pelipis matanya. Seseorang datang dan meneduhi dirinya dengan bayangan, Chezy
menoleh ke arah kanannya dan melihat seseorang mengulurkan tangannya yang
menggenggam satu kaleng cola, ia mendongakkan kepalanya. Alan. Chezy menengok pada
tokonya dan memastikan bahwa ia tak akan mendapat omelan karena saat jam kerja
ia terlihat sedang mengobrol dengan laki-laki.
“Tak apa.
Ambil dan minumlah.”
“Terimakasih.”
Ia menenggak sekaleng cola seperti baru saja bertemu dengan air setelah
melewati gurun pasir. Alan terkekeh kecil.
“Gula-gula?”
Chezy menerima lagi satu bungkus kecil gula-gula. “Aku harus pergi.”
“Apa?”
“Kubilang aku
harus pergi.” Senyum laki-laki itu lagi dan dia benar-benar berjalan
meninggalkan Chezy. Apa-apaan ini! Dia hanya datang untuk memberiku cola dan satu bungkus
permen?! Alis Chezy bertemu menjadi satu, ia bingung penasaran dan
kesal sembari membuka paksa bungkus permen itu, melahapnya dengan sekali buka
mulut. Sebelum dibuang ia melihat sesuatu tertulis di bungkus permen.
“081221357xxx. Alan. Hubungi aku.” What
the.. Entah, Chezy mengeja nomor per nomor dan menyimpannya sebagai
list chatting di dalam ponselnya.
To : Alan
“Ini Chezy.”
Tak sampai
satu menit ponselnya bergetar. You got
one message!
From : Alan
“Ini Alan.”
What
the…
Gadis yang
mempunyai rambut sebahu ini bergelimpangan di atas kasurnya, tak tahu harus
berbuat apa. Hari ini ia masuk pagi dan pulang sore, malam harinya hanya
bersantai di dalam rumah. Menimang-nimang ponselnya seperti menanti seseorang
menghubunginya, padahal tak ada apapun.
Tiba-tiba, you got one message!
From : Alan
“Chezy.”
To : Alan
“Ya?”
From : Alan
“Hehehe.”
To : Alan
“Apa-apaan! Tunggu, bagaimana kau bisa tau
aku sejauh itu?”
From : Alan
“Masih penasaran? Well, sebenarnya kita dulu
pernah berkenalan, hanya sekedar di ponsel saja. Kita berjanji akan bertemu di
sebuah taman, aku datang dan kau tidak. Aku menunggumu lama hingga hujan deras,
aku sendiri kau tau! Tapi kau tidak kunjung datang dan akhirnya aku pulang.”
To : Alan
“Ha? Kapan? Aku tidak pernah berjanji untuk
bertemu dengan seseorang akhir-akhir ini.”
From : Alan
“Itu sudah lama, kita masih remaja. Mungkin
empat tahun yang lalu, dan aku masih mengingatnya dengan jelas.” Empat tahun yang lalu! Yang benar saja!
Guyonan macam apa ini!
To : Alan
“Benarkah! Bohong!”
From : Alan
“Selamat tidur Chezy.”
oOo
“Chezy,
pisahkan Baby Breath putih dan violet
lalu ikat keduanya.”
“Baik.”
“Setelah itu
bawa ke tenant karnaval kita, Paman Nick menunggumu.”
“Iya, aku
mengerti.” Senyum simpul Chezy membuat seniornya mempercayakan pekerjaannya
pada gadis itu. Dengan hati-hati ia memondong beberapa ikat bunga pada dadanya
dan berjalan menuju tenant karnaval yang tak terlalu jauh dari tokonya. Event tahunan seperti karnaval semacam
ini akan berlangsung selama tiga atau lima hari di jalan besar yang disulap
menjadi seperti sebuah pasar malam yang dihiasi deretan lampion dan umbul-umbul.
Deretan toko yang ada di kanan dan kiri toko bunganya juga tak ingin kalah
mencari peruntungan dengan membuka tenant kecil di sepanjang jalan seperti apa
yang dilakukan toko bunganya. Hari masih siang tapi sudah begitu ramai
orang-orang mempersiakan ‘lapak’ mereka, padahal acara berlangsung masih
sekitar tiga atau empat
jam lagi. Sampai gadis itu di tenant tujuannya, seorang lelaki tambun sedang
membenarkan papan nama yang ada di sebelah meja bunga. “Paman Nick, bunga Baby Breath dari Ellisa. Kutaruh di atas
meja.” Orang tua itu menoleh.
“Oh ya ya,
taruh disana. Bantu aku memegang ini, aku akan memaku papan ini.” Chezy datang
dan mengulurkan bantuannya. “Pegang kuat.” Info orang tua itu lagi. Chezy
mengangguk dan memperhatikan tangannya, salah-salah jarinya yang akan dipaku.
Sembari memegangi papan panjang yang bertuliskan nama tokonya matanya memutari
sekeliling, melihat beberapa ‘tetangga’ tokonya sudah membuka beberapa tenant. Chinese
food, Toko boneka Sweet Bear, Toko daging yang ada di tikungan itu, Toko sepatu
sebelah tokoku, Coffe Boy mereka sudah membuka tenant disini. Mata
Chezy berhenti di tenant Coffe Boy yang seluruh pegawainya berdiri di depan tenant
mereka, tampak bersemangat menawarkan dagangannya. Ada sekitar tiga orang
laki-laki dan dua orang perempuan disana. Oh, salah satu gadis itu adalah adik kelasku
saat di sekolah dulu, aku tidak tau siapa namanya. Ya ampun, di ujung kiri, dia
tampan, sebelahnya juga. Chezy memperhatikan dua orang tampan yang
sedang membawa selebaran untuk dibagikan kepada pengunjung tanpa ada balasan
penglihatan dari mereka, setelah itu matanya menangkap salah seorang yang tak
terlalu diperhatikannya, kulitnya sedikit gelap dan laki-laki itu tersenyum
padanya dari seberang jalan. Chezy membalas senyum sopan. “Sudah selesai.”
Suara besar pria gemuk membawanya kembali pada dunia nyata. “Terimakasih, kau
bisa kembali ke toko dan membawakanku dua ikat Red Rose. Sampai sekarang mereka adalah bunga yang paling
diminati.” Chezy mengangguk dan berjalan kembali ke arah tokonya.
“Paman Nick
menyuruhku mengambil dua ikat Red Rose
untuk pajangan tenant.”
“Oh ya, ini,
tolong antarkan lagi.” Ellisa memberikan dua ikat bunga yang mempunyai wangi
paling khas itu dengan hati-hati. “Chezy..” Pemilik nama menoleh. “Maaf,
membuatmu mondar-mandir hari ini.” Akunya.
“Tak apa.”
Chezy tersenyum tulus.
“Tenant sudah
selesai dibangun kan? Mulai besok kau dan Paman Nick akan stay disana untuk sekitar satu minggu. Bersemangatlah!”
“Baik!”
Keesokan harinya,
Sekitar
pukul dua siang Chezy berjalan melewati jalan yang sudah ramai oleh penjual
yang sedang mempersiapkan lapaknya untuk hari pertama karnaval. Jalan
sebesar ini pasti nanti sore akan berdesakan oleh banyak pengunjung. Sebenarnya
aku benci keramaian. Chezy melihat Paman Nick sudah datang dan
tersenyum dari kejauhan menyambut kedatangannya. Ia mempercepat langkah kakinya
dan membalas senyuman Paman Nick.
“Siap
bertempur untuk nanti sore?” Canda Paman Nick.
“Yes Sir!” Kemudian keduanya tertawa
kecil. Chezy menaruh tas kecilnya dan segera membantu Paman Nick menggelar
dagangannya. Menaruh bunga besar seperti Sunflower dan Lily pada Vas besar lalu
mensejajarkan Lotus dan Teratai pada bak yang warnanya hampir sama. Memilah dan
memilih mana daun busuk yang harus dipotong, membersihkan meja kasir yang akan
dijadikan tempat pembayaran, Chezy sibuk hari ini. Satu jam berlalu dan lapak
kosong Chezy berubah menjadi taman bunga. Warna-warninya sangat mencolok dari
jarak sekitar delapan meter sekalipun. Chezy bisa melihat beberapa orang sudah
datang melalui pintu masuk karnaval yang dihiasi lampion diujung sana. Nyaris
seluruh tenant sudah siap dengan dagangannya masing-masing, Chezy bisa
mendengar suara dari tenant kios daging di seberang sana, suara pisau besar
yang beradu dengan papan kayu diatas meja, suara nona permen tempo hari yang
juga menjajakan permen payung dan permen batang panjang yang sedang
digenggamnya, Coffe Boy yang hampir semua karyawannya keluar tenant untu
membagikan selebaran. Ini hampir pukul setengah empat ya? Oke! Here
we go!
oOo
“Latte panas
kami hari ini diskon 20% jika anda memesan untuk dua porsi! Silahkan mampir
sebentar!” Suara cempreng yang melengking dari salah satu pegawai Coffe Boy,
gadis ini kecil tapi sangat bersemangat.
“Silahkan
Coffe Boy kami memiliki promo gratis satu cupcake setelah pemesanan empat gelas
Capucino.” Tawar laki-laki berkulit gelap kepada dua pengunjung yang sepertinya
sepasang kekasih yang melewati tenantnya sembari menyerahkan selebaran. Dia
melihat teman kerjanya sedang melamun atau apa kemudian menyenggol lengannya.
“Hei! Kerja.” Perintahnya.
“Bunga itu
indah sekali.”
“Apa?”
“Bunganya
indah.” Si kulit gelap mengikuti arah pandang kawannya.
“Tenant bunga
Sunshine itu?” Ia menaruh punggung telapak tangannya pada dahi kawannya. “Kau
demam? Bunga sebanyak itu memang bagus. Kau penggila bunga?”
“Bunga yang
memakai baju hitam itu, indah.” Si kulit gelap mencerna perkataan kawannya
kembali dan menoleh pada tenant bunga lagi.
“Ooh,
penjualnya. Haah! Lupakanlah! Kerja! Bagikan selebaranmu! Sudah mulai banyak
orang.” Perintahnya sembari memukulkan setumpuk selebaran yang digenggamnya
pada wajah kawan pengkhayalnya.
oOo
Hari ini
adalah hari kedua Chezy berada di tenant karnaval. Ia terlihat Nampak sibuk
dengan bunga-bunga yang sedang ditatanya. Ia harus merubah posisi bunga setiap
harinya agar tidak terlihat membosankan dan bunga yang lain dapat laku terjual.
Sebenarnya lengannya masih sedikit pegal karena kemarin adalah hari yang sangat
melelahkan dalam hidupnya. Tenant yang tak terlalu besar ini dikerumuni
sekumpulan Ibu-Ibu penggila bunga dan beberapa pasangan kekasih untuk membeli
bunga. Chezy dan Paman Nick sangat kewalahan dengan orang-orang ini. Dan
sialnya hari ini Chezy harus menjaga tenant seorang diri karena Paman Nick
tidak dapat datang. Kemarin saat tutup tenant ia jatuh dari kursi saat melepas
spanduk yang ada di atas papan nama tenant, kakinya terkilir dan terlihat
kasihan. Tubuh orang tua. Sesekali terlihat Chezy memijat-mijat kecil
kedua bahunya sembari tetap menata bunga-bunga besar di atas mejanya.
“Bunganya
kalah indah dengan penjualnya.” Chezy menegakkan tulang punggungnya dari tubuh
bungkuknya.
“Oh, hai.” Alan.
“Sendiri?
Paman Nick?” Tanyanya sembari celingukan.
“Kemarin
kakinya terkilir, dia tidak datang hari ini.” Jawab Chezy sembari menyibukkan
dirinya –yang memang sedang sibuk-. “Well,
aku tidak bisa mengingat apapun.” Tiba-tiba Chezy.
“Hm? Apa?
Apel?” Tawar Alan sembari menggigit sebuah apel besar dan menyodorkan sebuah
Apel lainnya pada Chezy, tapi Chezy menolak dengan mendorong pelan telapak
tangan yang sedang menggenggam Apel di depannya dan menggelengkan kepala pelan.
“Aku tidak
bisa mengingat bahwa kita pernah berkenalan dan berjanji untuk bertemu di suatu
tempat.”
“Kau tidak
ingat, itu empat tahun yang lalu.” Alan melubangi sisi lain Apel dengan
gigitannya.
“Benarkah?
Se-amnesia itukah aku? Well, jika
benar, lalu bagaimana kau bisa tau bahwa ini ‘aku’? Maksudku, bagaimana kau
bisa tau bahwa akulah orang yang pernah berkenalan denganmu di ponsel empat
tahun yang lalu? Bukankah katamu aku tidak datang menemuimu saat itu? Bagaimana
kau bisa tau wajahku?”
“Bagaimana
bisa kau secerewet ini? Aku hanya menebak saja.”
“Bohong.”
“Aku harus
pergi. Aku hanya lewat saja tadi.”
“Apa?!”
“Sampai
jumpa.”
“Yang benar
saja!” Chezy melihat laki-laki tinggi menjulang itu berjalan menjauhi tenant
dan dirinya kemudian keluar melewati gerbang pintu ‘selamat datang’ karnaval.
Gadis itu kembali pada pekerjaannya, duduk berjongkok dan memilih Teratai busuk
yang tenggelam di dasar bak untuk dibuang. Merangkai sekawanan Baby Breath dan Anggrek
Bulan dalam satu wadah dan melilitkan seutas daun yang menjalar sebagai sabuk
rangkaian bunga. Chezy sudah menemukan ‘rasa’ dari merangkai bunga. Ia kembali
berjongkok hendak mengambil beberapa Tulip segar.
“Bunganya
kalah indah dengan penjualnya.” Kalimat ini lagi! Ada apa dia kembali lagi!
“Mau apalagi!”
Ucap Chezy sembari berdiri dan menolehkan wajahnya. Tapi.. “Oh! Maaf, kukira..
kukira seseorang yang menggangguku. Ada apa ya?” Waah.. ada apa ini?
“Tidak
apa-apa, well, kami hanya sedang
istirahat, bolehkah duduk disini?”
“Oh ya, tentu
saja, jalanan masih sepi.” Tiga orang laki-laki yang tingginya nyaris sama
duduk bersama di sebuah bangku panjang di depan tenant Chezy. Satu orang
bermain ponsel dan dua lainnya mengipaskan selebaran mencari udara segar
disekelilingnya. Tiga orang tampan karyawan Coffe Boy dengan wangi yang berbeda, membuat
mataku sejuk kembali. Jika dilihat dari dekat mereka memang cool
dan..
“Sudah lama
bekerja di Sunshine?” Salah satu laki-laki membuka pembicaraan. Dia berdiri
dari duduknya dan berdiri di depan meja Chezy untuk mengobrol dengan satu-satunya
gadis yang ada di kumpulan ini.
“Ya? Oh, aku
karyawan baru. Belum ada satu bulan. Kalian?”
“Sebenarnya
Coffe Boy juga baru buka, kami juga baru direkrut.” Kemudian mereka larut dalam
obrolan yang tidak membosankan. Si gelap ini enak diajak berbicara, walaupun
kulitnya gelap dan wajahnya tak terlalu tampan dari yang lain tapi dia humoris.
Si
kulit putih itu menatapku terus, dan si keren sebelahnya menatapku tak jelas.
“Namaku Joe. Ini teman-temanku.”
“Oh, namaku
Chezy.”
“Aku Sam.”
“Aku Natthan.”
Natthan,
Oh, si kulit putih itu bernama Natthan..
“Kau dengar?
Namanya Chezy.” Bisik Joe pada telinga Natthan sembari merangkulkan lengannya
di tengkuk kawannya lalu mendaratkan pantatnya di kursi sebelah Natthan.
“Aku tau, aku
mendengarnya.”
“Kau senang?”
Joe menaik turunkan sebelah alisnya dengan senyum yang mengerikan, mereka masih
bersuara dengan bisikan.
“Carikan aku
nomor ponselnya.” Natthan menatap lurus pada Chezy yang sedang sibuk mengikat
rambutnya. Sementara Sam ia melihat Chezy.. hanya melihat, mungkin hanya
melihat.
To Be Continue...

