Rabu, 10 September 2014

Chezy 1





See.


          Memilikimu seperti menggenggam pasir, aku menguatkan kepalan tanganku tapi butiran itu menyakitiku, aku membuka kepalan tanganku tapi angin menerbangkannya. Salahku menemukanmu, salahku melihatmu, salahku memilihmu, salahku…


oOo


          “Buang bunga Dandelion yang sudah mengering di tempat sampah, kita tidak membutuhkan mereka untuk dipajang di tenant karnaval.”
          “Baik.”
          Gadis casual berbaju hitam memondong seikat bunga Dandelion kering dan membuangnya di tempat sampah tanpa harapan akan diambil kembali. Satu minggu ini dia menjadi pegawai baru di toko bunga yang menjanjikan gaji menggiurkan. Akhirnya ia mendapatkan pekerjaan yang ‘layak’ setelah berminggu-minggu mencari. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk bekerja keras dan tak mengecewakan siapapun. Setelah menjatuhkan sampah ke tempatnya, ia menepuk-nepuk kedua telapak tangannya agar kotoran dan debu dari bunga kering menyingkir darinya, lalu ia berjalan hendak kembali ke dalam toko sebelum matanya melihat seorang gadis dari toko permen yang berjarak beberapa meter dari tokonya tengah berbicara dengan seorang laki-laki tinggi. Hmm laki-laki itu lumayan. Sayup-sayup Chezy bisa mendengar suara gadis itu sedang berbicara. “Ayolah, berikan saja nomor telfonmu, temanku tergila-gila padamu. Tiga hari lagi aku dan dia akan dipindahkan ke luar kota. Kau tidak kasihan padanya?” Ya ampun gadis itu. Chezy memutarkan bola matanya dengan malas melihat bagaimana seorang gadis yang sepertinya sangat tidak pantas memohon-mohon dan mengejar seorang laki-laki hanya untuk sederet nomor telfon, dan bukan untuk dirinya sendiri—untuk orang lain yang katanya adalah temannya.
          “Aku tidak punya ponsel.” Jawab pria itu dingin sembari memasukkan permen batang ke dalam mulutnya. Laki-laki itu berjalan meninggalkan gadis penjual permen, tidak peduli dan menoleh sedikitpun walaupun namanya dipanggil berulang-ulang oleh gadis yang sepertinya adalah ‘fans’nya. Saat melewati Chezy laki-laki itu tersenyum sebagai pengganti ‘sapaan’ mungkin karena mulutnya tengah tersumpal sebuah permen batang, Chezy hanya membalas dengan senyum simpul. Ia melihat laki-laki itu mengarahkan Ibu jarinya ke belakang lalu menggelengkan kepalanya seperti mengadukan gadis ‘pengganggu’ itu kepada Chezy, lalu Chezy lebih melebarkan sedikit senyumnya dan menampakkan deretan gigi depannya. Laki-laki itu melenggang pergi dengan acuh, sementara gadis penjual permen masih berdiri di depan tokonya dengan membawa sebuah sapu, mata keduanya bertemu lalu si gadis permen tersenyum pada Chezy, ia melihat gadis itu berbicara tanpa suara kepadanya dari kejauhan dan Chezy berusaha mengartikan bentuk mulutnya. Laki-laki-itu-sombong-dan-sok-keren-tapi-dia-tampan. Itu yang diucapkan gadis permen, lalu ia melanjutkan temanku-menyukainya. Oh, bertingkah jalang untuk menyenangkan temannya? Sahabat yang baik atau sahabat yang bodoh? Chezy tersenyum dan berkata bahwa ia harus masuk ke dalam dan kembali pada pekerjaannya. Gadis permen yang bodoh itu mengangguk senyum tanda setuju. Setidaknya gadis itu ‘baik’.


          Keesokan harinya,
          “Istirahat satu jam kedepan semuanya.” Teriak Ellisa yang mana ia adalah kepala toko bunga ini. Well, Sunshine adalah nama toko bunga ini. Ellisa, gadis muda yang terkadang Chezy berpikir bahwa ia adalah seorang yang kolot dan sangat disiplin. Terkadang Chezy jengkel dengan gadis itu, tapi setidaknya ia partner kerja yang baik. “Chezy, bisakah kau order Latte yang dalamnya di beri batu es untuk semua yang ada disini?” Chezy tersenyum dan menerima beberapa lembar uang untuk order beberapa minuman di sebuah CafĂ© yang ada di seberang jalan depan tokonya. Coffe Boy tak terlalu ramai, mungkin orderanku akan cepat dilayani.
          Chezy berjalan-jalan kecil di muka pintu Cafe Coffe Boy sembari menunggu pesanannya sedang dibuat, ia melihat gadis permen dan si laki-laki tempo hari sedang bercakap sesuatu, ia menghampiri tanpa bermaksud ikut bergabung dalam percakapan -yang sepertinya membosankan- mereka.
          “Ayo berikan saja nomor ponselmu, temanku masih menyukaimu. Kau tidak lihat bagaimana ia mencuri-curi pandang saat kau lewat di depan toko kami.” Oh ya ampun, masih berlanjut ternyata.
          “Aku tidak melihat.” Jawabnya sedingin dasar laut. Saat Chezy berada di sebelah gadis itu untuk melihat beberapa jajaran toples permen yang dipajang gadis itu tiba-tiba merangkul dan menggandeng lengan Chezy. “Lihat kak bagaimana bisa dia sesombong itu!” Adunya pada Chezy dan si laki-laki hanya tersenyum sok keren. Laki-laki itu melipat kedua tangan di depan dadanya dan bergaya bak model yang sedang dipotret membuat Chezy dan gadis itu menahan tawa sebentar tapi tidak berhasil, keduanya tertawa karena melihat kelakuan lucu dari seorang laki-laki dingin seperti dia. Chezy menirukan bagaimana laki-laki itu bergaya lalu ketiganya kembali tertawa bersama, sebenarnya Chezy adalah gadis humoris dan ceria.
          “Sok keren sekali! Hahaha.” Chezy menirukan gayanya lagi.
          “Nona! Pesanan kopimu!” Seorang laki-laki yang mana adalah pegawai berdiri di depan pintu kedai Coffe Boy dan memanggil Chezy guna orderannya. Chezy datang dan menerima dua kantung plastic transparan berisis beberapa gelas Ice Coffe, dia melambaikan tangannya pada dua orang yang tiba-tiba sudah akrab dengannya dalam waktu beberapa menit yang lalu dan segera kembali pada tempat bekerjanya. Chezy datang dan disambut antusias oleh teman-teman satu kerjanya –mungkin yang disambut adalah barang bawaannya, bukan Chezy-. Karena ini adalah jam istirahat Chezy memutuskan untuk keluar dari ruangan ini, membuka kenop pintu toko dan segelintir angin menyapa rambut coklat cola miliknya. Ia menyeruput pelan kopi dingin yang ada di genggamannya dan melihat sekelilingnya, dia suka dengan pekerjaannya, sebentar lagi ia akan dipindahkan pada bagian karnaval selama kurang lebih satu minggu. Harus ada seseorang yang menemani Paman Nick di tenant karnaval, jika acara tahunan itu sudah selesai ia akan kembali lagi di toko besar ini.
          “Melamun!” Suara seseorang membawa Chezy pada dunia nyata yang sedang berputar.
          “Oh, si laki-laki sok keren.” Balas sapa Chezy dengan senyumnya.
          “Jam istirahat?”
          “Hmm..” Angguk Chezy.
          Anyway, namamu Chezy kan? Empat bersaudara?”
          “Ha?” Siapa dia?
          “Kau lulus sekolah dua tahun yang lalu?”
          “Bagaimana bisa-“ Sebenarnya dia siapa?
          “Rumahmu lumayan jauhlah dari sini, perjalanannya mungkin sekitar lima belas menit atau lebih.”
          “Bagaimana bisa kau tau aku sejauh itu? Kita pernah kenal? Atau kau kakak kelasku dulu di sekolah? Bagaimana-“
          “Kita tidak pernah kenal kan sebelumnya? Kita pernah bertemu sebelumnya? Tidak kan? Hari ini kan kita pertama kali bertemu?” Iya, tapi…
          “Tapi bagaimana bisa-“ Laki-laki itu tersenyum misterius dan mulai berjalan menjauhi Chezy. “Hei!” Laki-laki itu tetap berjalan menjauh, tiga meter lurus di tempat Chezy berdiri laki-laki itu membalikkan badannya.
          “Namaku Alan.” Dia tersenyum. Alan?



oOo


          Chezy menyapu lantai tokonya sesekali melihat ke arah luar, kaca besar yang bisa dilihat dari dua sisi pengganti tembok berdampingan dengan pintu satu-satunya jalan alternative keluar masuk tokonya. Dia melihat seseorang yang tiba-tiba menjadi sosok yang membuatnya sangat penasaran berjalan melewati tokonya beberapa kali. Laki-laki itu pasti menoleh dan menusukkan pandangannya tepat ke mata Chezy. Apa salahku?
          “Kakak, dia…” Chezy memanggil seniornya yang sedang membawa seikat Sunflower di dekapannya, Ellisa mengikuti arah mata pandangan Chezy.
          “Alan? Dia hanya seorang pengangguran muda yang tampan. Setiap hari pekerjaannya hanya mengelilingi deretan toko dan membeli ini itu. Mungkin sepertinya dia bekerja tapi tak ada seorangpun yang tau apa pekerjaannya. Jika tidak, bagaimana bisa dia setiap tiga hari sekali membeli beberapa kilo daging di toko daging yang ada di tikungan itu?” Chezy mengangguk mengerti –mungkin tidak sepenuhnya mengerti-. Ini sudah hari ketiga sejak laki-laki itu seperti menebak asal biodata Chezy tapi seluruhnya benar, Chezy melihat bagaimana laki-laki itu tersenyum setiap kali mata keduanya bertemu. Dia tidak takut tapi hanya penasaran, bukan, sangat penasaran. Jika diingat-ingat wajah pria itu tak pernah sekalipun Chezy mempunyai kakak kelas atau teman atau ‘teman kencan buta’ yang memiliki wajah seperti laki-laki yang katanya bernama Alan itu. Chezy masih berusaha mengingat-ingat siapa Alan sebenarnya, tapi dia tidak pernah menemukan jawaban. Putus asa, Chezy membiarkan semua mengalir dengan sendirinya.
          Membawa satu keranjang penuh sampah bunga kering membuat Chezy sedikit kesusahan, dia berjalan ke depan toko untuk menyatukan tumpukan bunga kering di tempat sampah. Selesai dengan itu ia mengusap peluhnya yang sebesar biji jagung melewati pelipis matanya. Seseorang datang dan meneduhi dirinya dengan bayangan, Chezy menoleh ke arah kanannya dan melihat seseorang mengulurkan tangannya yang menggenggam satu kaleng cola, ia mendongakkan kepalanya. Alan. Chezy menengok pada tokonya dan memastikan bahwa ia tak akan mendapat omelan karena saat jam kerja ia terlihat sedang mengobrol dengan laki-laki.
          “Tak apa. Ambil dan minumlah.”
          “Terimakasih.” Ia menenggak sekaleng cola seperti baru saja bertemu dengan air setelah melewati gurun pasir. Alan terkekeh kecil.
          “Gula-gula?” Chezy menerima lagi satu bungkus kecil gula-gula. “Aku harus pergi.”
          “Apa?”
          “Kubilang aku harus pergi.” Senyum laki-laki itu lagi dan dia benar-benar berjalan meninggalkan Chezy. Apa-apaan ini! Dia hanya datang untuk memberiku cola dan satu bungkus permen?! Alis Chezy bertemu menjadi satu, ia bingung penasaran dan kesal sembari membuka paksa bungkus permen itu, melahapnya dengan sekali buka mulut. Sebelum dibuang ia melihat sesuatu tertulis di bungkus permen.

          “081221357xxx. Alan. Hubungi aku.” What the.. Entah, Chezy mengeja nomor per nomor dan menyimpannya sebagai list chatting di dalam ponselnya.

          To : Alan
          “Ini Chezy.”

          Tak sampai satu menit ponselnya bergetar. You got one message!

          From : Alan
          “Ini Alan.”

          What the…

          Gadis yang mempunyai rambut sebahu ini bergelimpangan di atas kasurnya, tak tahu harus berbuat apa. Hari ini ia masuk pagi dan pulang sore, malam harinya hanya bersantai di dalam rumah. Menimang-nimang ponselnya seperti menanti seseorang menghubunginya, padahal tak ada apapun.
          Tiba-tiba, you got one message!  

          From : Alan
          “Chezy.”
          To : Alan
          “Ya?”
          From : Alan
          “Hehehe.”
          To : Alan
          “Apa-apaan! Tunggu, bagaimana kau bisa tau aku sejauh itu?”
          From : Alan
          “Masih penasaran? Well, sebenarnya kita dulu pernah berkenalan, hanya sekedar di ponsel saja. Kita berjanji akan bertemu di sebuah taman, aku datang dan kau tidak. Aku menunggumu lama hingga hujan deras, aku sendiri kau tau! Tapi kau tidak kunjung datang dan akhirnya aku pulang.”
          To : Alan
          “Ha? Kapan? Aku tidak pernah berjanji untuk bertemu dengan seseorang akhir-akhir ini.”
          From : Alan
          “Itu sudah lama, kita masih remaja. Mungkin empat tahun yang lalu, dan aku masih mengingatnya dengan jelas.” Empat tahun yang lalu! Yang benar saja! Guyonan macam apa ini!
          To : Alan
          “Benarkah! Bohong!”
          From : Alan
          “Selamat tidur Chezy.”



oOo



          “Chezy, pisahkan Baby Breath putih dan violet lalu ikat keduanya.”
          “Baik.”
          “Setelah itu bawa ke tenant karnaval kita, Paman Nick menunggumu.”
          “Iya, aku mengerti.” Senyum simpul Chezy membuat seniornya mempercayakan pekerjaannya pada gadis itu. Dengan hati-hati ia memondong beberapa ikat bunga pada dadanya dan berjalan menuju tenant karnaval yang tak terlalu jauh dari tokonya. Event tahunan seperti karnaval semacam ini akan berlangsung selama tiga atau lima hari di jalan besar yang disulap menjadi seperti sebuah pasar malam  yang dihiasi deretan lampion dan umbul-umbul. Deretan toko yang ada di kanan dan kiri toko bunganya juga tak ingin kalah mencari peruntungan dengan membuka tenant kecil di sepanjang jalan seperti apa yang dilakukan toko bunganya. Hari masih siang tapi sudah begitu ramai orang-orang mempersiakan ‘lapak’ mereka, padahal acara berlangsung masih sekitar tiga atau empat jam lagi. Sampai gadis itu di tenant tujuannya, seorang lelaki tambun sedang membenarkan papan nama yang ada di sebelah meja bunga. “Paman Nick, bunga Baby Breath dari Ellisa. Kutaruh di atas meja.” Orang tua itu menoleh.
          “Oh ya ya, taruh disana. Bantu aku memegang ini, aku akan memaku papan ini.” Chezy datang dan mengulurkan bantuannya. “Pegang kuat.” Info orang tua itu lagi. Chezy mengangguk dan memperhatikan tangannya, salah-salah jarinya yang akan dipaku. Sembari memegangi papan panjang yang bertuliskan nama tokonya matanya memutari sekeliling, melihat beberapa ‘tetangga’ tokonya sudah membuka beberapa tenant. Chinese food, Toko boneka Sweet Bear, Toko daging yang ada di tikungan itu, Toko sepatu sebelah tokoku, Coffe Boy mereka sudah membuka tenant disini. Mata Chezy berhenti di tenant Coffe Boy yang seluruh pegawainya berdiri di depan tenant mereka, tampak bersemangat menawarkan dagangannya. Ada sekitar tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan disana. Oh, salah satu gadis itu adalah adik kelasku saat di sekolah dulu, aku tidak tau siapa namanya. Ya ampun, di ujung kiri, dia tampan, sebelahnya juga. Chezy memperhatikan dua orang tampan yang sedang membawa selebaran untuk dibagikan kepada pengunjung tanpa ada balasan penglihatan dari mereka, setelah itu matanya menangkap salah seorang yang tak terlalu diperhatikannya, kulitnya sedikit gelap dan laki-laki itu tersenyum padanya dari seberang jalan. Chezy membalas senyum sopan. “Sudah selesai.” Suara besar pria gemuk membawanya kembali pada dunia nyata. “Terimakasih, kau bisa kembali ke toko dan membawakanku dua ikat Red Rose. Sampai sekarang mereka adalah bunga yang paling diminati.” Chezy mengangguk dan berjalan kembali ke arah tokonya.

          “Paman Nick menyuruhku mengambil dua ikat Red Rose untuk pajangan tenant.”
          “Oh ya, ini, tolong antarkan lagi.” Ellisa memberikan dua ikat bunga yang mempunyai wangi paling khas itu dengan hati-hati. “Chezy..” Pemilik nama menoleh. “Maaf, membuatmu mondar-mandir hari ini.” Akunya.
          “Tak apa.” Chezy tersenyum tulus.
          “Tenant sudah selesai dibangun kan? Mulai besok kau dan Paman Nick akan stay disana untuk sekitar satu minggu. Bersemangatlah!”
          “Baik!”


          Keesokan harinya,
          Sekitar pukul dua siang Chezy berjalan melewati jalan yang sudah ramai oleh penjual yang sedang mempersiapkan lapaknya untuk hari pertama karnaval. Jalan sebesar ini pasti nanti sore akan berdesakan oleh banyak pengunjung. Sebenarnya aku benci keramaian. Chezy melihat Paman Nick sudah datang dan tersenyum dari kejauhan menyambut kedatangannya. Ia mempercepat langkah kakinya dan membalas senyuman Paman Nick.
          “Siap bertempur untuk nanti sore?” Canda Paman Nick.
          Yes Sir!” Kemudian keduanya tertawa kecil. Chezy menaruh tas kecilnya dan segera membantu Paman Nick menggelar dagangannya. Menaruh bunga besar seperti Sunflower dan Lily pada Vas besar lalu mensejajarkan Lotus dan Teratai pada bak yang warnanya hampir sama. Memilah dan memilih mana daun busuk yang harus dipotong, membersihkan meja kasir yang akan dijadikan tempat pembayaran, Chezy sibuk hari ini. Satu jam berlalu dan lapak kosong Chezy berubah menjadi taman bunga. Warna-warninya sangat mencolok dari jarak sekitar delapan meter sekalipun. Chezy bisa melihat beberapa orang sudah datang melalui pintu masuk karnaval yang dihiasi lampion diujung sana. Nyaris seluruh tenant sudah siap dengan dagangannya masing-masing, Chezy bisa mendengar suara dari tenant kios daging di seberang sana, suara pisau besar yang beradu dengan papan kayu diatas meja, suara nona permen tempo hari yang juga menjajakan permen payung dan permen batang panjang yang sedang digenggamnya, Coffe Boy yang hampir semua karyawannya keluar tenant untu membagikan selebaran. Ini hampir pukul setengah empat ya? Oke! Here we go!
oOo


          “Latte panas kami hari ini diskon 20% jika anda memesan untuk dua porsi! Silahkan mampir sebentar!” Suara cempreng yang melengking dari salah satu pegawai Coffe Boy, gadis ini kecil tapi sangat bersemangat.
          “Silahkan Coffe Boy kami memiliki promo gratis satu cupcake setelah pemesanan empat gelas Capucino.” Tawar laki-laki berkulit gelap kepada dua pengunjung yang sepertinya sepasang kekasih yang melewati tenantnya sembari menyerahkan selebaran. Dia melihat teman kerjanya sedang melamun atau apa kemudian menyenggol lengannya. “Hei! Kerja.” Perintahnya.
          “Bunga itu indah sekali.”
          “Apa?”
          “Bunganya indah.” Si kulit gelap mengikuti arah pandang kawannya.
          “Tenant bunga Sunshine itu?” Ia menaruh punggung telapak tangannya pada dahi kawannya. “Kau demam? Bunga sebanyak itu memang bagus. Kau penggila bunga?”
          “Bunga yang memakai baju hitam itu, indah.” Si kulit gelap mencerna perkataan kawannya kembali dan menoleh pada tenant bunga lagi.
          “Ooh, penjualnya. Haah! Lupakanlah! Kerja! Bagikan selebaranmu! Sudah mulai banyak orang.” Perintahnya sembari memukulkan setumpuk selebaran yang digenggamnya pada wajah kawan pengkhayalnya.


                                                          oOo


          Hari ini adalah hari kedua Chezy berada di tenant karnaval. Ia terlihat Nampak sibuk dengan bunga-bunga yang sedang ditatanya. Ia harus merubah posisi bunga setiap harinya agar tidak terlihat membosankan dan bunga yang lain dapat laku terjual. Sebenarnya lengannya masih sedikit pegal karena kemarin adalah hari yang sangat melelahkan dalam hidupnya. Tenant yang tak terlalu besar ini dikerumuni sekumpulan Ibu-Ibu penggila bunga dan beberapa pasangan kekasih untuk membeli bunga. Chezy dan Paman Nick sangat kewalahan dengan orang-orang ini. Dan sialnya hari ini Chezy harus menjaga tenant seorang diri karena Paman Nick tidak dapat datang. Kemarin saat tutup tenant ia jatuh dari kursi saat melepas spanduk yang ada di atas papan nama tenant, kakinya terkilir dan terlihat kasihan. Tubuh orang tua. Sesekali terlihat Chezy memijat-mijat kecil kedua bahunya sembari tetap menata bunga-bunga besar di atas mejanya.
          “Bunganya kalah indah dengan penjualnya.” Chezy menegakkan tulang punggungnya dari tubuh bungkuknya.
          “Oh, hai.” Alan.
          “Sendiri? Paman Nick?” Tanyanya sembari celingukan.
          “Kemarin kakinya terkilir, dia tidak datang hari ini.” Jawab Chezy sembari menyibukkan dirinya –yang memang sedang sibuk-. “Well, aku tidak bisa mengingat apapun.” Tiba-tiba Chezy.
          “Hm? Apa? Apel?” Tawar Alan sembari menggigit sebuah apel besar dan menyodorkan sebuah Apel lainnya pada Chezy, tapi Chezy menolak dengan mendorong pelan telapak tangan yang sedang menggenggam Apel di depannya dan menggelengkan kepala pelan.
          “Aku tidak bisa mengingat bahwa kita pernah berkenalan dan berjanji untuk bertemu di suatu tempat.”
          “Kau tidak ingat, itu empat tahun yang lalu.” Alan melubangi sisi lain Apel dengan gigitannya.
          “Benarkah? Se-amnesia itukah aku? Well, jika benar, lalu bagaimana kau bisa tau bahwa ini ‘aku’? Maksudku, bagaimana kau bisa tau bahwa akulah orang yang pernah berkenalan denganmu di ponsel empat tahun yang lalu? Bukankah katamu aku tidak datang menemuimu saat itu? Bagaimana kau bisa tau wajahku?”
          “Bagaimana bisa kau secerewet ini? Aku hanya menebak saja.”
          “Bohong.”
          “Aku harus pergi. Aku hanya lewat saja tadi.”
          “Apa?!”
          “Sampai jumpa.”
          “Yang benar saja!” Chezy melihat laki-laki tinggi menjulang itu berjalan menjauhi tenant dan dirinya kemudian keluar melewati gerbang pintu ‘selamat datang’ karnaval. Gadis itu kembali pada pekerjaannya, duduk berjongkok dan memilih Teratai busuk yang tenggelam di dasar bak untuk dibuang. Merangkai sekawanan Baby Breath dan Anggrek Bulan dalam satu wadah dan melilitkan seutas daun yang menjalar sebagai sabuk rangkaian bunga. Chezy sudah menemukan ‘rasa’ dari merangkai bunga. Ia kembali berjongkok hendak mengambil beberapa Tulip segar.
          “Bunganya kalah indah dengan penjualnya.” Kalimat ini lagi! Ada apa dia kembali lagi!
          “Mau apalagi!” Ucap Chezy sembari berdiri dan menolehkan wajahnya. Tapi.. “Oh! Maaf, kukira.. kukira seseorang yang menggangguku. Ada apa ya?” Waah.. ada apa ini?
          “Tidak apa-apa, well, kami hanya sedang istirahat, bolehkah duduk disini?”
          “Oh ya, tentu saja, jalanan masih sepi.” Tiga orang laki-laki yang tingginya nyaris sama duduk bersama di sebuah bangku panjang di depan tenant Chezy. Satu orang bermain ponsel dan dua lainnya mengipaskan selebaran mencari udara segar disekelilingnya. Tiga orang tampan karyawan Coffe Boy dengan wangi yang berbeda, membuat mataku sejuk kembali. Jika dilihat dari dekat mereka memang cool dan..
          “Sudah lama bekerja di Sunshine?” Salah satu laki-laki membuka pembicaraan. Dia berdiri dari duduknya dan berdiri di depan meja Chezy untuk mengobrol dengan satu-satunya gadis yang ada di kumpulan ini.
          “Ya? Oh, aku karyawan baru. Belum ada satu bulan. Kalian?”
          “Sebenarnya Coffe Boy juga baru buka, kami juga baru direkrut.” Kemudian mereka larut dalam obrolan yang tidak membosankan. Si gelap ini enak diajak berbicara, walaupun kulitnya gelap dan wajahnya tak terlalu tampan dari yang lain tapi dia humoris. Si kulit putih itu menatapku terus, dan si keren sebelahnya menatapku tak jelas. “Namaku Joe. Ini teman-temanku.”
          “Oh, namaku Chezy.”
          “Aku Sam.”
          “Aku Natthan.”

          Natthan, Oh, si kulit putih itu bernama Natthan..

          “Kau dengar? Namanya Chezy.” Bisik Joe pada telinga Natthan sembari merangkulkan lengannya di tengkuk kawannya lalu mendaratkan pantatnya di kursi sebelah Natthan.
          “Aku tau, aku mendengarnya.”
          “Kau senang?” Joe menaik turunkan sebelah alisnya dengan senyum yang mengerikan, mereka masih bersuara dengan bisikan.
          “Carikan aku nomor ponselnya.” Natthan menatap lurus pada Chezy yang sedang sibuk mengikat rambutnya. Sementara Sam ia melihat Chezy.. hanya melihat, mungkin hanya melihat.



         





To Be Continue...

Senin, 24 Maret 2014

Ayah...







         Mereka terus mendesakku, mereka menuntut apapun dariku. Mereka pikir aku ini apa? Aku lelah—lelah lahir dan batin. Ayah, gadismu ini penat. Salurkan aku kekuatan agar aku bisa mengahadapi semuanya. Berkenankah Tuhan meminjamkanmu sebentar saja kepadaku agar bisa kucurahkan semua kelelahan dan kepenatanku di pelukanmu. Pelukan yang kurindukan 9 tahun ini. Gadis kecilmu yang dulu kau tinggalkan selama-lamanya sekarang sudah menjadi wanita dewasa. Memeluk batu nisan dan menangis tersedu-sedu menyebutkan namamu tak bisa mengurangi apapun di dalam hati yang sakit ini. Semua orang mempermainkan aku. Semua orang terus menginjakku. Melihatkah kau disana? Kau pasti melihat bagaimana aku menangis meminta bantuan, meminta asupan kekuatan agar tak selalu keluar air mata yang memerihkan kelopak mataku ini.
         Ayah, aku masih mengingat betul bagaimana rasanya Sembilan tahun yang lalu kau membangunkan aku dari tidur lelap dan menggendongku ke ruang tengah untuk menyantap makanan kesukaanku yang sengaja kau belikan untukku saat pulang bekerja. Ayah, aku rindu ketika kau memenuhi apapun permintaan yang keluar dari mulutku. Ayah, aku lelah bekerja. Aku ingin bersekolah di bangku pendidikan yang lebih tinggi seperti teman-temanku. Jika detik ini kau masih bernafas di dunia fana ini apakah kau akan mengusahakannya untukku? Apakah akan benar-benar kau wujudkan semua mimpi yang kusampaikan padamu—yang kuceritakan padamu?
         Ayah, aku ingin bercerita kepadamu. Cerita yang terlalu banyak, yang aku tidak tahu harus mengawalinya darimana. Walaupun seluruh manusia di rumah ini membencimu—membenci semua kenangan buruk tentangmu, setidaknya aku masih mengingat betul bahwa kaulah orang yang paling menyayangiku, orang yang paling mengutamakan aku. Aku ingin mengungkapkan semua padamu, cerita benang kusut dalam kehidupanku. Hingga tak kutemukan jalan keluar. Ayah, aku dipermainkan semua orang. Aku ingin sekali mengadu kepadamu seperti Sembilan tahun yang lalu. Ayah, bangunlah.. kumohon, bangun. Tak kuasa aku menahan bulir air di pelupuk mataku. Ayah, aku butuh lengan kuat penuh kasih sayang darimu. Ayah, kuatkan gadismu. Beradalah disisiku setiap detik. Usap kepalaku saat tangis tak lagi bisa kutahan. Walaupun aku tak bisa melihat dan merasakan usapan itu. Setidaknya dalam hati aku meyakini kau pasti melakukannya. Setidaknya dalam hatiku aku bersugesti bahwa kau yang selalu menyalurkan kekuatan dan semangat agar aku bisa menghadapi permainan takdir dan nasib di dunia memuakkan ini. Ayah, aku rindu.