Senin, 24 Maret 2014

Ayah...







         Mereka terus mendesakku, mereka menuntut apapun dariku. Mereka pikir aku ini apa? Aku lelah—lelah lahir dan batin. Ayah, gadismu ini penat. Salurkan aku kekuatan agar aku bisa mengahadapi semuanya. Berkenankah Tuhan meminjamkanmu sebentar saja kepadaku agar bisa kucurahkan semua kelelahan dan kepenatanku di pelukanmu. Pelukan yang kurindukan 9 tahun ini. Gadis kecilmu yang dulu kau tinggalkan selama-lamanya sekarang sudah menjadi wanita dewasa. Memeluk batu nisan dan menangis tersedu-sedu menyebutkan namamu tak bisa mengurangi apapun di dalam hati yang sakit ini. Semua orang mempermainkan aku. Semua orang terus menginjakku. Melihatkah kau disana? Kau pasti melihat bagaimana aku menangis meminta bantuan, meminta asupan kekuatan agar tak selalu keluar air mata yang memerihkan kelopak mataku ini.
         Ayah, aku masih mengingat betul bagaimana rasanya Sembilan tahun yang lalu kau membangunkan aku dari tidur lelap dan menggendongku ke ruang tengah untuk menyantap makanan kesukaanku yang sengaja kau belikan untukku saat pulang bekerja. Ayah, aku rindu ketika kau memenuhi apapun permintaan yang keluar dari mulutku. Ayah, aku lelah bekerja. Aku ingin bersekolah di bangku pendidikan yang lebih tinggi seperti teman-temanku. Jika detik ini kau masih bernafas di dunia fana ini apakah kau akan mengusahakannya untukku? Apakah akan benar-benar kau wujudkan semua mimpi yang kusampaikan padamu—yang kuceritakan padamu?
         Ayah, aku ingin bercerita kepadamu. Cerita yang terlalu banyak, yang aku tidak tahu harus mengawalinya darimana. Walaupun seluruh manusia di rumah ini membencimu—membenci semua kenangan buruk tentangmu, setidaknya aku masih mengingat betul bahwa kaulah orang yang paling menyayangiku, orang yang paling mengutamakan aku. Aku ingin mengungkapkan semua padamu, cerita benang kusut dalam kehidupanku. Hingga tak kutemukan jalan keluar. Ayah, aku dipermainkan semua orang. Aku ingin sekali mengadu kepadamu seperti Sembilan tahun yang lalu. Ayah, bangunlah.. kumohon, bangun. Tak kuasa aku menahan bulir air di pelupuk mataku. Ayah, aku butuh lengan kuat penuh kasih sayang darimu. Ayah, kuatkan gadismu. Beradalah disisiku setiap detik. Usap kepalaku saat tangis tak lagi bisa kutahan. Walaupun aku tak bisa melihat dan merasakan usapan itu. Setidaknya dalam hati aku meyakini kau pasti melakukannya. Setidaknya dalam hatiku aku bersugesti bahwa kau yang selalu menyalurkan kekuatan dan semangat agar aku bisa menghadapi permainan takdir dan nasib di dunia memuakkan ini. Ayah, aku rindu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar