Selasa, 20 September 2016
Bagaimana Cara Berhenti?
Aku tidak bisa berhenti memikirkan kamu. Kamu datang ketika aku membutuhkan seseorang yang seperti 'kamu'. Aku tidak ingin seperti ini, kenapa harus denganmu? Kenapa aku dilahirkan dengan perasaan yang mudah dilabuhkan ke sembarang hati yang terlihat baik kepadaku.
Apa kamu tau seberapa banyak aku merindukanmu sepanjang hari? Bahkan hanya seuntai kata 'Hai'. Aku tidak pernah berani membayangkan bahwa cintaku tak akan bertepuk sebelah tangan denganmu. Hanya bisa berbicara denganmu saja sudah cukup membuatku kesenangan sampai lupa diri.
Aku bukanlah seseorang yang kau inginkan. Aku tau itu. Sangat tau. Aku harus bagaimana jika saat itu datang? Saat kamu mulai bosan denganku? Saat aku tak lagi mengasyikan?
Yang aku tahu, aku jatuh cinta denganmu...
dan tidak tahu bagaimana cara berhenti.
Minggu, 28 Agustus 2016
Bawa Aku Kesana
Bawa aku kesana, ketempatmu yang sepertinya sangat bahagia jika kulihat dari tempatku berdiri.
Bawa aku kesana, ketempatmu dimana aku tidak mengerti sama sekali apa yang sedang terjadi.
Bawa aku kesana, ketempatmu yang selalu ingin kujelajahi, kugali dan ku kenali. Tapi kau tak berkenan sedikitpun. Menuntunku satu langkahpun kau tak mau.
Kita selalu bahagia, di dalam khayalanku.
Aku kehilangan kita yang dulu, kita yang baik-baik saja. Kita yang sedang rumit sekarang ini, aku tidak sanggup. Aku melangkah sendiri di perjalanan bisu, tanpa arah, tanpa batas. Terengah-engah mengikutimu yang menghilang entah kemana.
Berteriak memohon kepadamu agar kembali. Hingga aku kehabisan tenaga, hingga nafasku sesak. Tapi tak ada apapun. Bisik suaramupun tak ku dengar lagi.
Kembalilah seperti dulu, menjadi cahaya pagi yang hangat. Kembalilah menjadi angin yang berhembus mesra disekitarku. Kembalilah menjadi apapun yang kusukai.
Aku merindukanmu seperti ini, aku menyesalimu segila ini.
Aku masih mencintaimu,
dengan segenap kehancuranku.
Jumat, 06 Mei 2016
Benar-Benar Rindu
Aku merasa seperti kau menyuruhku untuk tidak menyerah. Aku merasa seperti kau selalu memberikanku asupan semangat. Aku merasa seperti ada yang selalu mengusap kepalaku ketika aku nyaris menyerah dan tersedu hingga aku kehabisan tenaga, hingga aku sulit bernafas. Jika itu sebagian dari khayalanku maka mungkin memang benar, tapi bagaimana jika memang benar? Bagaimana jika kau memang sedang mengusap kepalaku dengan kasih yang tulus setulusnya. Aku tidak pernah merasakannya di kenyataan, tapi aku yakin itu benar kau, semua semangat itu, semua ketabahan yang entah kudapat dari mana, bisikan bisikan yang membujukku untuk ikhlas atas segala hal, kekalahan-kekalahan yang menerpaku, kesedihan-kesedihan yang kutelan sendiri, tangisan yang selalu pecah dalam bisu. Bagaimana aku bisa sampai disini? Setegar ini? Sekuat itu? Itu pasti karenamu. Tuhan mengirimkanmu sesekali untuk menguatkan aku. Iya, mungkin begitu. Aku mungkin sudah gila.
Ayah, aku rindu padamu. Benar-benar rindu.
Minggu, 10 April 2016
First Kiss
Jodohku ternyata bukan pada seseorang yang telah mendapatkan ciuman pertamaku.
Mas, yang manis dengan kacamata, dengan lesung pipi, dengan gigi gingsul, dengan tubuh kurus tinggi.
Mas, yang sangat jago bermain alat musik, apalagi gitar jangan ditanya.
Mas, sekali lagi selamat. Besok kamu resmi milik orang. Tadi saat perayaan dirumahmu aku duduk ditengah kerumunan teman-temanku, melihatmu mondar-mandir sibuk menemui tamu, aku tidak menyangka kita pernah punya suatu hubungan, yang kita sendiri yang tahu, kita sendiri yang menyadari itu. Kala itu aku masih remaja, dan kau juga. Aku sudah mengagumimu sejak dulu dan aku tak menyangka cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Ya ampun, itu sudah sekitar enam tahun yang lalu. Aku selalu mengagumi saat kau bermain musik, aku selalu iri pada gitar yang selalu kau peluk itu. Kau termasuk pemuda yang dikagumi banyak wanita jadi aku tak berharap lebih padamu, takut jatuh dan terperosok jauh. Tapi kau datang meraih tanganku. Kau nyatakan cinta sebelum aku sadar bahwa ini memang dunia nyata. Kukira aku terperangkap di dunia khayalku.
Dan pada akhirnya suatu hari kita bertemu, aku takut itu bukan kau tapi ternyata memang kau. Itu pertemuan pertama kita. Aku tak percaya sampai-sampai bertanya padamu apa memang benar itu dirimu kala itu.
Mas, yang juga sangat mahir bermain piano, ingat tidak? Dirumahmu, di depan laptop, mengerjakan tugas sekolah bersama-sama, apa yang terjadi kala itu akupun tak tahu, yang pasti dengan sangat beruntung kamu mendapatkan ciuman pertamaku. Aku tidak menyesal (sampai sekarang) bahwa kaulah yang mendapatkan first kiss-ku.
Mas, yang beberapa jam yang lalu menjabat tanganku dan berkata terimakasih karena aku sudah mau bernyanyi untuk kebahagiaannya, terimakasih pula karena telah menjaga first kiss-ku walaupun pada akhirnya bukan aku yang menyandingmu esok hari. Aku sudah move on berkali-kali darimu, tapi tidak mungkin aku lupa pada masa lalu. Kau pun pasti sama. Terimakasih, karena jika tidak kau lukai hatiku dulu aku tidak akan setegar ini sekarang.
Mas, yang kuakui sebagai mantanku untuk diriku sendiri tanpa seorangpun tahu, sekali lagi selamat berbahagia. Aku tak mengapa, sungguh, tak ada perasaan apapun sekarang untukmu. Kau terlihat seperti kakak sekarang ini.
Selamat bahagia, Mas. Selamat.
Mas, yang manis dengan kacamata, dengan lesung pipi, dengan gigi gingsul, dengan tubuh kurus tinggi.
Mas, yang sangat jago bermain alat musik, apalagi gitar jangan ditanya.
Mas, sekali lagi selamat. Besok kamu resmi milik orang. Tadi saat perayaan dirumahmu aku duduk ditengah kerumunan teman-temanku, melihatmu mondar-mandir sibuk menemui tamu, aku tidak menyangka kita pernah punya suatu hubungan, yang kita sendiri yang tahu, kita sendiri yang menyadari itu. Kala itu aku masih remaja, dan kau juga. Aku sudah mengagumimu sejak dulu dan aku tak menyangka cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Ya ampun, itu sudah sekitar enam tahun yang lalu. Aku selalu mengagumi saat kau bermain musik, aku selalu iri pada gitar yang selalu kau peluk itu. Kau termasuk pemuda yang dikagumi banyak wanita jadi aku tak berharap lebih padamu, takut jatuh dan terperosok jauh. Tapi kau datang meraih tanganku. Kau nyatakan cinta sebelum aku sadar bahwa ini memang dunia nyata. Kukira aku terperangkap di dunia khayalku.
Dan pada akhirnya suatu hari kita bertemu, aku takut itu bukan kau tapi ternyata memang kau. Itu pertemuan pertama kita. Aku tak percaya sampai-sampai bertanya padamu apa memang benar itu dirimu kala itu.
Mas, yang juga sangat mahir bermain piano, ingat tidak? Dirumahmu, di depan laptop, mengerjakan tugas sekolah bersama-sama, apa yang terjadi kala itu akupun tak tahu, yang pasti dengan sangat beruntung kamu mendapatkan ciuman pertamaku. Aku tidak menyesal (sampai sekarang) bahwa kaulah yang mendapatkan first kiss-ku.
Mas, yang beberapa jam yang lalu menjabat tanganku dan berkata terimakasih karena aku sudah mau bernyanyi untuk kebahagiaannya, terimakasih pula karena telah menjaga first kiss-ku walaupun pada akhirnya bukan aku yang menyandingmu esok hari. Aku sudah move on berkali-kali darimu, tapi tidak mungkin aku lupa pada masa lalu. Kau pun pasti sama. Terimakasih, karena jika tidak kau lukai hatiku dulu aku tidak akan setegar ini sekarang.
Mas, yang kuakui sebagai mantanku untuk diriku sendiri tanpa seorangpun tahu, sekali lagi selamat berbahagia. Aku tak mengapa, sungguh, tak ada perasaan apapun sekarang untukmu. Kau terlihat seperti kakak sekarang ini.
Selamat bahagia, Mas. Selamat.
Rabu, 06 April 2016
Langitmu
Yang kurindukan hanyalah jingga yang membias dengan senja. Yang kurindukan adalah helaan pagi hari yang menggigit tengkukku.
Bagaimana pagi hari yang begitu damai, bagaimana sore hari yang begitu menyenangkan. Aku akan larut dalam nostalgia yang sangat dalam. Merengkuh sebanyak-banyaknya kenangan masa laluku yang bahagia. Aku selalu berkata bahwa aku membenci hujan. Sebenarnya bukan benci, hanya saja aku takut dan tidak pernah menemukan cara bagaimana melawan rasa takut dari mendung hitam yang bergejolak dengan angin riuh. Memang, aku selalu jatuh cinta dengan bau basah tanah setelah diguyur air hujan. Tapi, bisakah aku tak melewati saat ributnya air datang dan hanya menikmati apa yang dia tinggalkan?
Oh ya, aku juga merindukan birunya langit yang berebut tempat dengan awan. Karena itulah aku benci ketika mendung-mendung datang dan menyembunyikan warna biru yang paling kusuka. Mungkin semua orang akan mentertawakan aku karena diumur sekarang, keadaan sekarang, masih sibuk mengenang suasana-suasana macam itu. Yah, benar, memalukan. Tapi, just try it. Lepas apa yang sedang kau kejar, buang apa yang sedang kau pegang, sebentar saja. Just for a second, berjalanlah keluar. Lihat langitmu, langit yang selalu menunggumu untuk melihat ke arahnya. Tak merindukah kau atas kedamaian itu? Kita terlalu sibuk atas apa yang tidak kita ketahui pula.
Aku hanya senang menatap langit biru dengan waktu yang lama. Aku hanya senang menikmati angin pagiku dengan duduk dan menutup mata merasakan sejuk itu menyapa kulitku. Aku hanya senang menikmati jingga senja dengan membiarkan sinar lemah surya menabrak seluruh tubuhku. Hanya itu.
Tapi aku terbelenggu dengan apa yang sedang aku kerjakan dan tak sempat melakukan itu semua. Aku mencoba mencari sela. Like, aku akan melepas jaketku dan membiarkan cahaya matahari sore menyapa kulit tanganku ketika sedang di atas sepeda motor perjalanan pulang ke rumah, and aku akan berenang menggunakan gaya dada ketika pagi menjelang siang datang karena sebenarnya aku hanya ingin melihat langit dengan tenang dan lama, aku tidak suka gaya dada karena saat berenang air akan masuk ke dalam hidungku dengan mudah, jadi itu semua hanya.. you know?
Dan yang paling kurindukan adalah angin pagi yang sejuk. Aku bangun pagi ketika pagi telah mengucapkan selamat tinggal dan aku tak mendengar. Aku disapa panas dan gerah ketika bangun tidur. Sudah kucoba, tapi aku kelelahan dengan setumpuk jadwal yang kukerjakan kemarin hingga tubuhku seperti tak mengijinkanku menghirup angin esok pagi.
Dan pagi hari, besok aku akan mencoba menyapamu lagi.. tunggu aku. ;)
Bagaimana pagi hari yang begitu damai, bagaimana sore hari yang begitu menyenangkan. Aku akan larut dalam nostalgia yang sangat dalam. Merengkuh sebanyak-banyaknya kenangan masa laluku yang bahagia. Aku selalu berkata bahwa aku membenci hujan. Sebenarnya bukan benci, hanya saja aku takut dan tidak pernah menemukan cara bagaimana melawan rasa takut dari mendung hitam yang bergejolak dengan angin riuh. Memang, aku selalu jatuh cinta dengan bau basah tanah setelah diguyur air hujan. Tapi, bisakah aku tak melewati saat ributnya air datang dan hanya menikmati apa yang dia tinggalkan?
Oh ya, aku juga merindukan birunya langit yang berebut tempat dengan awan. Karena itulah aku benci ketika mendung-mendung datang dan menyembunyikan warna biru yang paling kusuka. Mungkin semua orang akan mentertawakan aku karena diumur sekarang, keadaan sekarang, masih sibuk mengenang suasana-suasana macam itu. Yah, benar, memalukan. Tapi, just try it. Lepas apa yang sedang kau kejar, buang apa yang sedang kau pegang, sebentar saja. Just for a second, berjalanlah keluar. Lihat langitmu, langit yang selalu menunggumu untuk melihat ke arahnya. Tak merindukah kau atas kedamaian itu? Kita terlalu sibuk atas apa yang tidak kita ketahui pula.
Aku hanya senang menatap langit biru dengan waktu yang lama. Aku hanya senang menikmati angin pagiku dengan duduk dan menutup mata merasakan sejuk itu menyapa kulitku. Aku hanya senang menikmati jingga senja dengan membiarkan sinar lemah surya menabrak seluruh tubuhku. Hanya itu.
Tapi aku terbelenggu dengan apa yang sedang aku kerjakan dan tak sempat melakukan itu semua. Aku mencoba mencari sela. Like, aku akan melepas jaketku dan membiarkan cahaya matahari sore menyapa kulit tanganku ketika sedang di atas sepeda motor perjalanan pulang ke rumah, and aku akan berenang menggunakan gaya dada ketika pagi menjelang siang datang karena sebenarnya aku hanya ingin melihat langit dengan tenang dan lama, aku tidak suka gaya dada karena saat berenang air akan masuk ke dalam hidungku dengan mudah, jadi itu semua hanya.. you know?
Dan yang paling kurindukan adalah angin pagi yang sejuk. Aku bangun pagi ketika pagi telah mengucapkan selamat tinggal dan aku tak mendengar. Aku disapa panas dan gerah ketika bangun tidur. Sudah kucoba, tapi aku kelelahan dengan setumpuk jadwal yang kukerjakan kemarin hingga tubuhku seperti tak mengijinkanku menghirup angin esok pagi.
Dan pagi hari, besok aku akan mencoba menyapamu lagi.. tunggu aku. ;)
Langganan:
Postingan (Atom)