Mereka terus mendesakku, mereka menuntut apapun dariku. Mereka pikir aku ini apa? Aku lelah—lelah lahir dan batin. Ayah, gadismu ini penat. Salurkan aku kekuatan agar aku bisa mengahadapi semuanya. Berkenankah Tuhan meminjamkanmu sebentar saja kepadaku agar bisa kucurahkan semua kelelahan dan kepenatanku di pelukanmu. Pelukan yang kurindukan 9 tahun ini. Gadis kecilmu yang dulu kau tinggalkan selama-lamanya sekarang sudah menjadi wanita dewasa. Memeluk batu nisan dan menangis tersedu-sedu menyebutkan namamu tak bisa mengurangi apapun di dalam hati yang sakit ini. Semua orang mempermainkan aku. Semua orang terus menginjakku. Melihatkah kau disana? Kau pasti melihat bagaimana aku menangis meminta bantuan, meminta asupan kekuatan agar tak selalu keluar air mata yang memerihkan kelopak mataku ini.
Ayah, aku masih mengingat betul
bagaimana rasanya Sembilan tahun yang lalu kau membangunkan aku dari tidur
lelap dan menggendongku ke ruang tengah untuk menyantap makanan kesukaanku yang
sengaja kau belikan untukku saat pulang bekerja. Ayah, aku rindu ketika kau
memenuhi apapun permintaan yang keluar dari mulutku. Ayah, aku lelah bekerja.
Aku ingin bersekolah di bangku pendidikan yang lebih tinggi seperti
teman-temanku. Jika detik ini kau masih bernafas di dunia fana ini apakah kau
akan mengusahakannya untukku? Apakah akan benar-benar kau wujudkan semua mimpi
yang kusampaikan padamu—yang kuceritakan padamu?
Ayah, aku ingin bercerita kepadamu.
Cerita yang terlalu banyak, yang aku tidak tahu harus mengawalinya darimana.
Walaupun seluruh manusia di rumah ini membencimu—membenci semua kenangan buruk
tentangmu, setidaknya aku masih mengingat betul bahwa kaulah orang yang paling
menyayangiku, orang yang paling mengutamakan aku. Aku ingin mengungkapkan semua
padamu, cerita benang kusut dalam kehidupanku. Hingga tak kutemukan jalan
keluar. Ayah, aku dipermainkan semua orang. Aku ingin sekali mengadu kepadamu
seperti Sembilan tahun yang lalu. Ayah, bangunlah.. kumohon, bangun. Tak kuasa
aku menahan bulir air di pelupuk mataku. Ayah, aku butuh lengan kuat penuh
kasih sayang darimu. Ayah, kuatkan gadismu. Beradalah disisiku setiap detik.
Usap kepalaku saat tangis tak lagi bisa kutahan. Walaupun aku tak bisa melihat
dan merasakan usapan itu. Setidaknya dalam hati aku meyakini kau pasti
melakukannya. Setidaknya dalam hatiku aku bersugesti bahwa kau yang selalu
menyalurkan kekuatan dan semangat agar aku bisa menghadapi permainan takdir dan
nasib di dunia memuakkan ini. Ayah, aku rindu.
