Rabu, 28 Oktober 2015

Kepalsuan yang kubuat sendiri


Sebenarnya aku lelah menulis tentangmu, tentangku. Aku takut akan menjadi-jadi perasaan ini. Tapi aku tak bisa berhenti menuliskan tentang kita—yang dulu. Aku ingin kau tau betapa aku saat ini hancur tanpamu, aku ingin kau melihat betapa aku membutuhkanmu saat ini.
Semua menyuruhku agar tak seperti ini, menyudahi kebodohan yang kuperbuat karena ulahmu. Semua orang memakiku seolah aku wanita terbodoh sedunia karena masih berpegang teguh pada keajaiban bahwa kau akan kembali padaku.
Semua orang berkata padaku untuk tegar dan menyudahi ketidak masuk akalan pikiranku tentangmu.
Hanya saja.. mereka tidak tahu apapun tentangku, tentang kita! Mereka hanya melihat dan berbicara semau mereka.
Percayalah aku masih menunggumu dibalik badai yang berguncang membuat jarak kita kian merenggang. Percayalah aku masih menginginkan senyumanmu tertuju padaku.
Sayang, tidak ada yang seperti kita sebelumnya, tidak ada yang sebahagia kita, kita yang paling bahagia.
Kenapa kau enyahkan aku tiba-tiba? Sayang, aku percaya kita masih saling membutuhkan.
Kenapa kau dorong aku sejauh-jauhnya darimu?
Aku masih percaya kau tak dengan seluruh tenagamu saat mendorongku.

Aku percaya, aku percaya, aku percaya... Pada apa yang kukatakan pada diriku sendiri agar kamu terlihat benar dibenakku. Aku percaya pada kepercayaan yang kurangkai dan kutanamkan pada hatiku.
Aku percaya suatu hari nanti kita bertemu kembali dalam keadaan yang lebih baik lagi.
Tapi sekali lagi, aku percaya pada kepalsuan yang kubuat sendiri.

Jumat, 09 Oktober 2015

Pergilah, dan jangan pernah kembali!


Apa maksutmu sebenarnya? Bukan karena aku masih sendiri saat ini, aku terus saja menunggumu. Tidak. Itu aku yang dulu, yang masih bodoh menungguimu tanpa harapan sedikitpun darimu. Aku yang dulu terjerembab begitu dalam di gelapnya senyum semu yang kau punyai. Aku yang dulu yang begitu ingin memilikimu. Itu cinta. Cinta yang begitu egois, sifatnya harus memiliki. Aku tak setenang sekarang. Darah gadis muda masih mengalir deras di dalam tubuhku. Aku menggebu-gebu menginginkanmu saat itu. Ketika aku merindumu dengan gila, dan aku menyadari kau tak ada disisiku, aku ingin sekali menikam sebuah belati hingga tertusuk dalam ke pulung hatiku.

Begitu kau enyah, aku memukul kepalaku sendiri. Menyadarkan jiwaku sendiri, bahwa kita tak akan pernah menyatu. Kita tak akan bisa. Aku mulai mempelajari makna kata ‘sayang’ yang mendengarnya saja membuatku merasa ingin mual. Namun, tak seburuk perkiraanku. Rupanya ’sayang’ lebih tenang, tak seliar cinta. ‘Sayang’ lebih ikhlas dan tulus. Membiarkanmu berbahagia dengan pilihanmu rasanya nyaman. Membuatmu tak merasa terbebani oleh hadirnya diriku membuatku merasa lega.

Tak usah datang lagi! Aku sudah merelakanmu! Salahmu kali ini, kenapa bertubi-tubi mengemis cinta padaku. Setelah kau pergi darinya, setelah dia dengan pria lain, setelah kalian mulai bosan dengan hubungan kalian, atau apa? Setelah apa? aku bukan bangku kosong yang dengan senang hati dijadikan sandaran hati laki-laki sepertimu. Aku ingin memiliki perjalanan yang sama bahagianya sepertimu dulu. Aku tak ingin berkelut denganmu lagi. Kenapa! Kamu selalu datang lagi, lagi, dan lagi! Aku muak denganmu! Biarkan aku dengan yang lain. Biarkan aku berbahagia sendiri dengan kehidupanku yang sekarang.

Belajarlah mengenal kata ‘sayang’. Belajarlah, lakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan beberapa tahun yang lalu. Hingga aku bisa lepas darimu. Maksutku, benar-benar lepas! Kenapa seperti ini terus menerus. Jika tidak dengannya, kau akan berlari kearahku. Jika tidak denganku, kau akan kembali padanya. Laki-laki macam itu. Laki-laki macam apa kau! Apa kehidupanmu hanya ada aku dan dia? Aku saja muak denganmu.

Pergilah, dan jangan pernah kembali!

Sebelum Dia Datang


        Aku mencium telapak tanganku sendiri, berusaha mencari wangimu disana. Mengingat beberapa jam yang lalu kau genggam jemariku. Mungkin bagimu, genggaman tangan yang tidak disengaja beberapa jam yang lalu itu hanya bagian dari canda dan gurau kita, tapi, special bagiku. Aku melepaskanmu—merelakanmu agar rasanya lega. Iya, rasa sakit itu berangsur hilang. Namun, melihatmu berjalan ke arahku dengan senyum yang paling kusukai seperti mengalihkanku dari keputusan yang kubuat. Aku tidak kuasa mengelaknya. Aku masih mencintaimu—sangat.

         Untaian tanganmu yang hendak meraih dan mencubit pipiku, kutepis. Jangan lagi. Jangan lagi aku merasakan setiap inci sentuhan tanganmu. Membuatku berdebar tak karuan. Kamu pergi saja. Hilang sepenuhnya dari pandanganku tak mengapa, agar segera usai rasa sakit ini. Hilang dan muncul, terus menerus seperti itu. Aku berniat melupakanmu tapi kau patahkan itu. Aku berusaha menghindarimu, tapi kau datang bertubi-tubi kepadaku. Aku bersusah payah menghilangkan bayang wajah dan bisik suaramu dalam otakku, tapi dengan mudah kau goyahkan semangatku. Kau terus menerus membuatku seperti selalu membutuhkanmu. Tolong, jangan datangi aku lagi.

                   Dari ceritamu, aku tau tentang dirimu dan kekasihmu lebih lanjut. Sebenarnya untuk apa kau teruskan? Apa yang kau cari? Dia mencintaimu, tapi kau tidak kan? Cintak sepihak yang semu. Lalu kenapa kau berkata ‘ya’ saat itu? Untuk apa? Cintamu palsu untuknya. Aku menahan geram di hatiku sekaligus menyimpan sedikit rasa bahagia. Setidaknya aku merasa masih ada celah untukku.

         Sudah lama kita tidak merasakan dinginnya malam berdua di atas sepeda motormu. Dengan lelucon dan canda tawa yang sering kita utarakan. Sudah lama sejak wanita itu menjadi seseorang yang penting dalam hidupmu—mungkin juga tidak. Aku merindukanmu dengan gila. Nasihat darimu agar aku tidak melupakan makan dan tidur pada jam yang tepat tak kudapatkan lagi darimu.

         Malam ini begitu dingin bagiku. Bergelut dengan nuraniku sendiri. Aku rindu. Bagaimana meluapkan ini? Haruskah kutekan tanda Call pada kontak nomor ponselmu? Sedang apa kau diseberang sana? Sudikah kau memikirkan aku walau sepersekian detik saja? Bisakah kita kembali seperti dulu—saat kita masih dalam keadaan baik-baik saja? Tanpa ada nama wanita itu disetiap perbincangan kita? Kenapa dia seperti begitu penting bagimu? Harusnya kau jawab semua pertanyaan yang sudah bertumpuk dipikiranku sedari tadi! Aku ingin sekali detik ini tiba-tiba kau ada di depanku dan tersenyum seperti biasanya. Sebentar saja. Kemarilah.. usap bahu dan puncak kepalaku seperti biasanya. Hatiku berkelut memikirkanmu. Kau selalu memiliki aku, tapi, aku tidak pernah memilikimu. Tidak pernah, sekalipun.

Kita Berakhir


       Aku tak tahu bagaimana harus mengawali ini, semua terjadi begitu rumit, begitu berkelut. Aku sedang sakit dan kau datang, berjanji membantuku agar sembuh, dan ketika aku akan benar-benar sembuh kau hempaskan aku lebih jauh lagi, menampar hatiku lebih keras lagi.

         Dulu, aku baik-baik saja sendiri. Dan, sekarang, lihat apa yang kau lakukan padaku? Bukankah kau sangat hebat? Aku tertatih-tatih seorang diri mencari bagaimana maksud tujuanmu padaku? Dulu, pertama kali bertemu. Ingatkah kau? Ingatkah bagaimana dulu caramu memujaku? Aku berjalan mengikuti jalan gelap, berjalan lurus tanpa tahu arah muara. Lalu cahayamu datang remang menuntunku pada sesuatu yang kau bilang akan berujung pada kebahagiaan. Kau gandeng tanganku, terus membawaku pada arus sesak yang belum bisa dikatakan cinta, lalu sampai aku pada suatu tempat, tenang dan hangat, menghirup rindu yang sesak dan pada akhirnya mengenal cinta—mungkin hanya aku.

         Semua orang menatapmu sebelah mata, tahukah kau? Mereka mencacimu di depanku—dibelakangmu. Mereka menarik tanganku dan menutup pernafasanku agar tak terus menerus menghirup rindu itu. Mereka meyakinkan aku bahwa ini salah. Aku tak percaya dan tetap berpihak padamu. Masih, aku berteguh bahwa ini jalanku, ini pilihanku. Kau. Bagaimana bisa jalan setenang dan sehangat ini disebut salah? Bagaimana bisa rindu sesak yang membuatku candu itu disebut salah? Aku percaya padamu.

         Tapi…
         Kenapa? Kenapa sedikit demi sedikit mereka terlihat benar? Dan pada akhirnya mereka memang benar. Yang kau bilang aku hanya satu-satunya? Yang kau bilang rindu? Yang kau bilang cinta? Apa! Kau katakan hal yang sama pada orang lain. Kau lakukan hal yang sama pada orang lain. Aku seperti rusa bodoh yang hanya bisa makan dan tidur. Masih berkata ‘tak apa’ pada diriku sendiri, masih berkata ‘semua itu tak benar’ pada diriku sendiri. Dan pada akhirnya memang akulah yang bodoh. Membiarkanmu bermain-main dengan perasaan semua wanita.

         Aku disini berjuang seorang diri mempertahankanmu, aku disini masih menginginkanmu. Dan ketika kau semakin jauh dariku, mereka mulai kembali menarikku, menjauhkanku darimu—sejauh-jauhnya. Kenapa? Kenapa perasaan seindah ini harus dipaksa untuk berhenti? Kenapa seperti ini akhir dari kita? Inikah muara kebahagiaan yang kau janjikan? Aku jatuh di lubang yang sama, terperosok hingga jauh ke dalam. Aku menggapai-gapai meraih permukaan, mencari pertolongan dan tak ada satu orangpun yang menarikku keluar. Aku jatuh dan sendiri. Melihatmu berlari bersama orang lain.

         Rasanya aku ingin berjalan di tengah hujan deras agar tak seorangpun menyadari bahwa ada tangis di wajahku. Tahukah kau betapa perihnya rasa ini? Menguak memori itu, kedekatan kita, seperti embun yang kalah dengan sinar matahari pagi. Dia akan tetap lenyap meskipun perlahan. Aku sudah merangkai banyak rencana denganmu, tapi kau menghancurkannya dengan sekejap. Aku tahu, banyak pilihan memang menyenangkan. Tapi aku bukan daftar makanan yang bisa saja kau pilih sesuka hati. Aku bukan gadis bodoh yang mau dijadikan salah satu ‘daftarmu’ dan rela antri hanya untuk menikmati waktu bersamamu. Aku benci mengetahui bahwa aku memang sedang kau masukkan di antara mereka, aku ingin dijadikan tujuan, bukan pilihan.

         Aku lelah, menunggumu, lelah. Menunggu untuk disakiti olehmu, lagi dan lagi. Tak usah denganmu saja. Tuhan, ambil rasa ini lagi. Cinta yang kau anugerahkan padaku hanya menyiksaku saja. Berakhir. Kita berakhir. Tak usah ada kebahagiaan. Kita dalam keadaan baik-baik saja itu sudah cukup. Sebenarnya, ada tangis saat aku berkata ‘berakhir’. Sebenarnya aku tak ingin ini berakhir. Sebenarnya aku masih ingin menikmati sisa hari seperti biasanya denganmu. Sebenarnya aku masih ingin ada tawa ‘khusus’ kita seperti biasanya. Sebenarnya aku masih ingin menyentuhmu seperti biasanya. Sebenarnya…



         Aku masih cinta padamu…



         Dan kita berakhir…



         Seperti ini…

Thanks...





       Suara gemuruh manusia beberapa menit yang lalu menghilang seiring angin musin panas melewati garis hidungku. Ribuan orang duduk di tribun dengan rapi, aku melihat kebanyakan dari mereka sedang mengipaskan kipas kecil tepat di depan wajah mereka, menanti garis finish disentuh oleh motor seseorang. Dengan harap-harap cemas aku juga sedang berdoa agar kekasihku yang menyentuh garis putih untuk yang pertama kalinya. Iya, dia Tuan tampan bertubuh tinggi menjulang dengan hidung prosotan dan rambut tebal yang sering kuacak-acak. Tunggu, garis bawahi ini. Aku sebenarnya juga tidak mengerti harus bagaimana untuk menyebutkan ini, mungkin dia adalah kekasih gelapku, atau mungkin aku yang sedang disembunyikan olehnya. Kami menjalin hubungan dibelakang semua orang dengan keyakinan kita akan saling setia. Tapi, itu semua sebenarnya omong kosong, dinamakan ‘setia’ apa seperti ini? Ia tau aku punya kekasih dan akupun tau dia juga punya kekasih, kita mengingkari janji setia kami pada pasangan untuk mendapat kebahagiaan yang tidak bisa diberikan pasangan kami. Dia belum pernah melihat seperti apa wajah kekasihku, akupun begitu padanya. Dari kejauhan tampak empat motor besar berjajar memperebutkan posisi paling depan, kemudian dibelakang mereka baru saja muncul belasan motor besar lainnya. Aku melihat kekasihku berada di posisi nomor dua dari depan. Aku mengenal betul bentuk tubuhnya walau dilapisi jaket setebal itu. Dia berbelok pada tikungan besar dan mampu merebut posisi paling depan. Dia Kyuhyun-ku.
         Garis finish di depan mata, dengan mudah dia melewati laki-laki pengibar ‘bendera catur’ di sebelah garis finish. Membuat bendera besar itu berkibar karena kencang dari motornya. Dia menang. Bersamaan dengan itu suara gemuruh pendukungnya bersorak tak keruan. Kyuhyun-ku menang.


         “Jika besok aku menang, tunggu aku disuatu tempat. Aku akan menghampirimu dan merayakannya bersamamu.”


         Aku turun dari tribun bersama puluhan pendukung yang ingin memberinya selamat. Aku masih menjaga jarak dan melihat Kyuhyun melepaskan helm besarnya, membuat rambut coklat karatnya berantakan dan berkilau karena sinar matahari. Aku tersenyum seorang diri karena turut bahagia atas kemenangannya. Merapatkan kedua telapak tanganku seolah aku akan dihampiri olehnya di hadapan umum. Satu persatu orang mendekatinya dan pada akhirnya Kyuhyun tak nampak di tengah kerumunan orang-orang itu, tapi aku masih bisa sayu-sayup mendengar gelak tawanya. Ketika para manusia mulai merenggang dan aku menemukan sosoknya, sekejap kulihat matanya menemukanku dan beralih lagi pada seseorang yang datang untuk menjabat tangannya. Aku tak tahan ingin sekali mendekati dan memeluk atas kebahagiaannya. Melihatnya dari kejauhan seperti ini rasanya…
         Baru saja aku memasukkan niat pada otakku untuk menghampirinya, dari arah kanan Kyuhyun, seseorang berwajah berseri-seri menghampirinya. Rambut hitam pekat, lurus dan kelihatannya sangat lembut, membingkai wajah tirus dan cantik. Aku mengenali wajah itu, Tiffany Hwang. Teman satu bangku-ku di Universitas. Sahabat terbaik yang pernah kumiliki. Seseorang akan sangat beruntung jika mempunyai sahabat sebaik Tiffany, mungkin di kehidupan sebelumnya dia adalah seorang malaikat dari langit yang melakukan kesalahan kemudian diturunkan ke bumi. Tiffany mempunyai hati selembut madu, mungkin juga dia adalah type wanita yang akan menangis melihat bunga yang ditanamnya layu. Aku melihat lengannya menguntai dan menggandeng lengan kekar Kyuhyun. Hei, laki-laki itu bukankah milikku? Dengan senang hati wajah Kyuhyun menunduk untuk mendapatkan ciuman dari bibir berlipstik pink muda. Keduanya tersenyum di hadapan orang-orang seolah ini adalah hari pernikahan mereka. Aku masih terbujur kaku, mungkinkah nyawaku baru saja lepas dari ragaku? Milyaran wanita di bumi ini, kenapa harus gadis sebaik itu? Haruskah aku tetap menunggumu di suatu tempat agar kita bisa merayakan kemenanganmu bersama? Hatiku anjlok sampai ke dasar perut melihatmu mengecup puncak kepala Tiffany. Apa aku sekarang ini? Sampah? Lelucon bagimu? Bahkan saat ini ia benar-benar melupakanku, bukankah beberapa saat lalu dia melihatku? Benar-benar tak ingatkah aku ada di sekitarnya saat ini?
         Aku tak kuasa, semua orang dengan senyum melebar diwajahnya sementara aku dengan wajah kusut yang setengah mati menahan rasa sesak yang mengganjal di tenggorokanku. Kyuhyun dan Tiffany? Mereka dua orang yang mempunyai posisi penting dihidupku. Kenapa mereka? Aku membalikkan tubuh dan berjalan mengikuti tapak demi tapak jalanan. Aku ingin berlari dengan kencang dan menangis sekeras-kerasnya sampai kehabisan tenaga. Aku tau ini pasti akan terjadi, tapi kenapa harus dengan gadis itu? Tuan aku terluka cukup parah, bahkan tanpa kau menyentuhku sedikit saja. Kaki dan hatiku tak berjalan pada satu arah, sekejap aku tak berdaya menapaki tanah. Tertunduk bagai seseorang yang paling bersalah. Mengatur sedemikian rupa perasaanku agar tidak berpengaruh pada raut wajahku. Mempertahankan air bening tetap ada di dalam kelopak mataku, agar hidungku tak segera memerah karena kesedihan yang luar biasa menusuk relung hatiku. Ada apa dengan udara di sekitar sini? Aku seperti berebut oksigen dengan semua orang. Begitu sesak dan.. entahlah!
         “Nara.” Aku mengangkat dagu perlahan, seseorang memanggil namaku. “Kenapa bisa ada disini? Bersama siapa?” Oh, dia. Kekasihku, Cho Seung Hyun. Laki-laki sopan dengan senyum khas yang paling aku sukai. Aku juga tidak bisa percaya bahwa aku sedang menduakan laki-laki yang terlalu baik ini. Hei, bagaimana bisa dia ada di sini? Harusnya aku yang bertanya seperti itu? Bukankah waktunya terlalu berharga untuk berada di tempat seperti ini. Dia orang yang cukup sibuk. “Ayo ikut aku, kukenalkan pada seseorang.” Aku tak kuasa melawan. Seung Hyun menggandeng tanganku dengan lembut, dia memang selalu seperti ini. Aku adalah hidupnya. Berjalan melewati beberapa kerumunan dan memastikan aku masih baik-baik saja dalam gandengannya. Aku tidak akan memakan apapun yang akan dibelikannya untukku jika dia ingin mengajakku untuk makan siang kali ini. Kedua pasang kaki Seung Hyun berhenti membuatku turut berhenti di belakangnya. Aku masih menunduk menyembunyikan wajahku pada semua orang. Aku berpikir, sepertinya wajahku masih belum cukup normal untuk ‘keadaan-hati-yang-sedang-baik-baik-saja’.
         “Jung Nara? Sedang apa disini?” Tunggu, bukankah ini suara Tiffany? Tiffany?! Ini suara Tiffany! Aku mengangkat dagu segera dan melihat mata Tiffany menyipit cantik karena senyuman di depanku. Manik mataku melihat telapak tangannya terpaut pada seseorang—kekasih gelapku. Kyuhyun.
         “Fany? Aku..” Aku melihat Kyuhyun hanya menatap ke arahku, seperti tak ada yang lain yang bisa tatap.
         “Kalian saling kenal?” Tanya Seung Hyun.
         “Dia sahabat terbaik yang ada di dunia ini, kak, tanpanya aku seperti Tiffany tanpa kebahagiaan.” Aku hanya bisa tersenyum simpul saat Tiffany memeluk tubuhku erat dan singkat.
         “Ooh, well, Kyu, ini Jung Nara, Kekasihku. Penulis lho, memang ini baru pertama kali kukenalkan kekasihku padamu. Kau pasti belum kenal kan? Cantik kan dia?” Aku sangat terkejut dan tergores begitu dalam ketika Kyuhyun mengulurkan tangannya di hadapanku.
         “Belum kak, aku belum pernah mengenalnya. Aku Cho Kyuhyun, senang bertemu denganmu. Aku adik dari kekasihmu. Apa kakak kandungku bersikap baik padamu?” Apa? Kakak? Kandung? Mereka berdua? Kyuhyun memberi tekanan nada saat menjelaskan posisi Seung Hyun dalam daftar keluarganya. Aku melihat otot pada pipi Kyuhyun sedikit gemetar, seperti menahan gemertak gigi yang ada di dalam mulutnya. Dari bulat matanya aku juga bisa melihat amarah dan kekecewaan tak dapat dipisahkan di dalam dirinya saat ini. Wajahnya tenang tapi ada kebencian yang dipancarkan kepadaku. Aku menjabat tangannya seolah kami memang baru saja bertemu di hari ini, lalu apa artinya ciumanmu tadi malam jika hari ini kita kembali menjadi orang asing. Aku bisa melihat lengan Tiffany melingkari pinggul Kyuhyunlebih erat, mendekatkan tubuhnya pada tubuh yang memelukku kemarin malam.
         “Aku Jung Nara kekasih kakakmu, dia memperlakukanku seperti seorang putri salju yang tidak kunjung bangun dari tidur, lembut dan menjagaku. Tiffany adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki, mungkin aku rela menukarkan apapun yang kumiliki untuk menolongnya jika dia sedang berada dalam kesulitan. Apa dia memperlakukanmu dengan baik?” Aku menekankan nada pada saat menegaskan posisi Tiffany dihidupku dan kini Kyuhyun terlihat memancarkan rasa bersalahnya tapi aku juga masih bisa melihat ada raut kekesalan yang membingkai rasa bersalahnya.
         Kyuhyun tersenyum kecut. “Tentu saja.” Jawabnya. Tuan, rasanya aku tidak sanggup lagi melihat wajahmu.
         “Mungkin tiga bulan lagi aku akan bertunangan dengan Nara. Kalian segeralah menyusul.”Aku dan Kyuhyun melotot hampir bersamaan. Aku tidak pernah mendengar rencana ini sebelumnya, apalagi Kyuhyun.
         “Tenang kak, mungkin sebulan setelah pertunanganmu aku akan melamar Fany.” Ujarnya angkuh membuat hatiku semakin teriris-iris.
         “Benarkah? Aku tidak tau kau bisa semanis ini untuk memberi kejutan?” Tanya Tiffany sembari mencubit mesra pipi kesukaanku.
         “Aku harus pergi, aku ingat ada pertemuan dengan klien setelah makan siang. Selamat atas kemenanganmu yang entah keberapa kali ini, Kyu.” Seung Hyun menepuk bahu adiknya.
         “Terimakasih sudah datang kak, dengan membawa… kekasihmu. Kau pandai memilih kekasih, seperti yang kau ceritakan selama ini, dia cantik dan sepertinya baik hati.” Aku melihat! Aku melihat senyum Kyuhyun tak pernah semenakutkan ini. Hatiku hancur entah ke berapa kali mendengar Kyuhyun menyebutku seperti itu.
         “Fany, aku pergi dulu. Sampai bertemu dikampus. Kau pandai memilih laki-laki. Kyuhyun tampan dan berprestasi, sepertinya dia juga laki-laki yang… setia.” Kyuhyun tersenyum malas mendengar ucapanku.

         Setelah Tiffany memelukku beberapa saat, Seung Hyun menggandeng jemariku tapi aku melepaskannya, lebih memilih untuk merangkul pinggulnya, sama seperti yang dilakukan Tiffany pada kekasih gelapku. Aku berjalan dengan pandangan kosong menuju tempat parker kendaraan, sementara Seung Hyun mengoceh sesuatu yang aku yakin sebagian besar adalah mengenai acara pertunangan yang diutarakannya beberapa saat lalu. Jujur, aku tidak peduli. Aku merasakan sesuatu bergetar di dalam saku, ponselku. You got one message! Tanpa sepengetahuan kekasihku, aku membaca pesan masuk.


         From : Kyuhyun
         “Kenapa harus kakakku?”

         To : Kyuhyun
         “Kenapa harus sahabat terbaikku?”


         Tuan, terimakasih untuk segala kebahagiaan yang telah kau berikan padaku secara diam-diam, secara rahasia. Terimakasih telah menyembunyikan aku di balik semua kesuksesanmu. Terimakasih atas apa yang kau ucapkan hari ini, itu memperjelas semua jika akan memang berakhir pada hari ini. Tuan, terimakasih, hari ini kita saling menyakiti…

Angin Malam Hari


Aku menulis ini ketika air mataku telah mengering, ketika aku telah diam dari sesenggukan tangisanku. Karena merindukan sosokmu segila ini. Aku berteman kelam dan sendu.
Tadi, saat aku pulang dari pekerjaanku, diatas sepeda motorku, aku, di bawah kecepatan 40km/jam melihat bagaimana lembabnya jalan raya, betapa dingin angin malam yang menabrak wajahku. Aku melihat disisi kananku, tak ada seorangpun. Dulu, iya, tak henti-hentinya dan tak bosan-bosannya aku membahas masa lalu selama itu masih tentangmu. Harusnya di sebelahku, ada kau. Bertukar gelak tawa di tengah dinginnya susana setelah hujan. Kau akan rela mengantarku pulang dahulu padahal arah rumah kita jelas-jelas berbeda dan kita membawa kendaraan masing-masing. Aku masih bisa menggambarkan senyummu kepadaku yang kini sudah dimiliki seutuhnya oleh orang lain. Aku ingat jelas bagaimana kamu akan selalu menempatkanku pada sisi kirimu. Aku rindu saat itu, aku nyaris menangis kembali menuliskan kata demi kata untuk mengingat bahagianya kita pada saat itu
Suatu hari, saat aku benar-benar gundah dengan keadaan kita yang selalu seperti itu. Kau mengikatku dengan tambang besar yang kau namakan 'harapan' dan aku tak mempunyai belati untuk memutuskan simpul harapanmu. Aku tak berdaya pada apapun yang berkaitan padamu. Hari demi hari kujalani dengan ketakutan menyelubungi hatiku, takut jika kau akan pergi dariku, takut jika suatu hari aku tak lagi istimewa bagimu, takut jika kau memang benar-benar bukan untukku, ketakutan yang paling menghatuiku adalah aku takut jika aku bukanlah bagian tulang rusukmu yang hilang.
Hari itu, adalah hari yang paling kutakuti. Tiba. Pengabaian demi pengabaian yang kudapatkan darimu, kelembutan yang selalu kau berikan padaku sedikit demi sedikit menghilang. Hari dimana aku melihatmu menjadi orang lain, bukan kau yang selalu penuh kasih kepadaku. Menunjukkan padaku betapa tampannya kau ini, betapa hebatnya kau ini. Menggoda wanita tepat dihadapanku. Memperjelas kabar burung yang kudengar dari semua orang mengenai dirimu. Mulanya aku menepis mereka semua, dan hari itu kau malah memperjelas semuanya.
Di malam dengan udara dingin menggigit kulitku, aku, setelah melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi, menekan emosi, menelan kekecewaan dan menyembunyikan tangis. Di area parkir kendaraan bersiap pulang ke rumah, sendiri. Iya, karena sudah lebih dari seminggu tidak ada yang menungguku pulang di dekat basement gedung dan mengantarku pulang seperti biasanya. Inikah titik akhir kebosananmu padaku? Di perjalanan, titik-titik kecil air hujan menyentuh wajahku, aku menyeka sekilas, namun kini aku tak tahu dan tak bisa membedakan mana air hujan dan mana air mata. Aku tersayat terlalu dalam. Luka bernanah yang menganga di dalam hatiku. Inikah kau yang sebenarnya? Inikah aku dimatamu? Inikah kita? Inikah akhir dari kita? Bagaimana bisa semudah ini kita berakhir? Jadi, selama ini hanya aku yang berjuang untukmu?
Sesuatu menelusup dan membuatku sesak dengan teramat. Ditengah jalan, menangisimu yang telah pergi dariku. Aku ingin meraung seperti anak kecil tapi aku tak segila itu. Aku menutup kaca helmku yang gelap lalu menangis di dalam sana. Menahan sekuat tenaga agar suaraku tak menggelegar keluar. Aku sakit! Teramat sakit! Angin malam tak pernah sedingin ini, biasanya ada tawamu yang menghangatkanku di sebelahku, biasanya ada suaramu yang memastikan aku pulang sampai di rumah. Aku menoleh ke sisi kananku, hanya jalanan lembab setelah diguyur hujan. Hanya motor-motor dan mobil yang menyalipku secara brutal. Aku membekap wajahku menekan tangisan dan air mata agar tak menjadi-jadi karena menyadari tak ada kau lagi disisiku, tak ada lagi.
Mulai hari ini aku akan pulang sendiri sedingin apapun angin malam hari.

Bintang


Aku hanya takut Tuan, kamu sama saja seperti yang lain, pergi disaat aku sedang jatuh cinta padamu, pergi disaat aku mulai tak bisa bernafas jika tak mengawali hari tanpa sapaanmu.
Aku hanya takut Tuan, kamu sama seperti yang lain, menjadikanku sebagai pilihan, bukan tujuan.
Aku hanya takut Tuan, kamu sama saja seperti yang lain, membuatku beranggapan bahwa semua kebaikan dan perhatianmu adalah caramu mencintaiku, tapi aku pikir itu adalah caramu untuk menyenangkanku saja.

Setiap detik waktu yang kujalani aku merasa diliputi rasa takut, aku hanya tidak mau jatuh di lubang yang sama dengan cara yang sama dan aku akan lebih membenci kenyataan jika kali ini kau adalah pelakunya.
Tuan, pastikan dengan apapun cintaku adalah yang terbaik. Jika katamu aku adalah bulan maka benar kau adalah bintang. Dan seharusnya kita memang harus bersama. Pernahkah kau melihatku menggandeng matahari? Pernahkah kau melihatku merengkuh awan untuk menutupi diriku darimu. Aku akan selalu bersamamu, mengikuti gelapnya langit saat bergeser setiap detiknya. Kita bergerak beriringan bersama, biarkan gelap malam menyelimutiku karena dengan begitu sinarmu terpancar ke setiap sudut tempat.
Tuan aku berharap kau akan terus menjadi bintang kelu yang selalu kupuja secara diam-diam, kukagumi dalam kebisuan. Aku bulan semu tak akan kemanapun selama kau masih berkelip di sisiku.

Kamis, 08 Oktober 2015

Mencintaimu dari jauh, sangat jauh...

Dentuman kecil kecipak air bersatu dengan kawannya menjadi genangan kotor. Beberapa detik yang lalu ia sesuci embun sebelum menjatuhkan dirinya di kumpulan debu lalu membuat dirinya terseret dalam kepekatan. Air hujan yang selalu kubenci datang lagi. Dingin, tajam, dan suara yang membengungkan telingaku.
Bagaimana bisa aku membenci kesejukan yang seperti ini, duduk menyembunyikan diri di hangatnya pakaian tebal. Teras rumah yang tenang, yang damai, yang selalu kusukai. Melamunkan sesuatu yang seharusnya kusudahi sejak dulu tapi tak mampu.
Bagaimana bisa mampu selama itu masih mengenai dirimu?
Bagaimana bisa mampu selama itu masih tentang 'kita', biar lebih kuperjelas, sebenarnya 'kita yang dulu'.
Apa salahnya aku mengenangmu? Kamu hidup dalam otakku, bermain-main dalam anganku, singgah dalam mimpiku, lalu bisa apa aku selain mencurahkanmu dalam tulisan abadiku?
Sebelumnya, terimakasih karena telah benar-benar menghilang dari pandanganku, terimakasih karena tak kau izinkan lagi aku memandangmu meskipun itu dari balik tubuh kekasihmu yang sedang kau dekap, dari kejauhan, dari kepahitan yang harus kutahan mengingat kau tak lagi seutuhnya milikku. Sekarang kau benar-benar pergi, tak lagi disekitarku, tak lagi bisa kupandangi, bagamana ini? Harusnya aku berpesta dalam hati karena akan sangat mudah untuk lepas dari belenggu yang kau rantaikan padaku, tapi bagaimana jika nanti aku merindukanmu? Bagaimana jika nanti aku ingin melihatmu? Bagaimana jika aku hanya sekilas saja ingin melihatmu tersenyum?
Bagaimana jika nanti aku gila karena merindukanmu?
Aku bahkan tidak tahu apalagi yang harus kutulis untuk menjelaskan bagaimana aku bisa serindu ini padamu. Angin berhembus berlomba-lomba membuatku menggigil kedinginan tanpa cita untuk bersamamu lagi. Apa kabar tentang 'aku hanya akan bersamamu' satu tahun yang lalu? Hilangkah bersama angin yang telah melewatiku beberapa detik yang lalu? Apa kau tau rasanya.. Haahh, beban sesak yang kupikul sendiri untuk satu tahun terakhir ini? Aku sudah jatuh padamu, jatuh sejatuh-jatuhnya. Dan kau berpaling, tanpa menoleh untuk kedua kali kau berlari secepat mungkin, sejauh mungkin agar aku tak bisa mengejarmu. Aku menemukan jejakmu, tapi aku tak bisa menemukanmu. Aku tak mampu mengikutimu. Jadi ini yang kulakukan satu tahun ini, mengikuti jejakmu. Iya, hanya mengikuti jejakmu. Aku tak akan pernah bisa bertemu denganmu, tak akan pernah bisa mengikutimu, tak akan pernah sampai padamu.
Mencintaimu dari jauh, sangat jauh.
Terus mengikuti jejakmu sembari terseok, tak apa. Selama jejakmu masih ada, aku tau kau masih baik-baik saja. Dan ketika aku tak lagi menemukan jejakmu, aku akan tersenyum dan menyadari bahwa saat itulah aku harus berhenti untuk mengikutimu.