Rabu, 28 Oktober 2015

Kepalsuan yang kubuat sendiri


Sebenarnya aku lelah menulis tentangmu, tentangku. Aku takut akan menjadi-jadi perasaan ini. Tapi aku tak bisa berhenti menuliskan tentang kita—yang dulu. Aku ingin kau tau betapa aku saat ini hancur tanpamu, aku ingin kau melihat betapa aku membutuhkanmu saat ini.
Semua menyuruhku agar tak seperti ini, menyudahi kebodohan yang kuperbuat karena ulahmu. Semua orang memakiku seolah aku wanita terbodoh sedunia karena masih berpegang teguh pada keajaiban bahwa kau akan kembali padaku.
Semua orang berkata padaku untuk tegar dan menyudahi ketidak masuk akalan pikiranku tentangmu.
Hanya saja.. mereka tidak tahu apapun tentangku, tentang kita! Mereka hanya melihat dan berbicara semau mereka.
Percayalah aku masih menunggumu dibalik badai yang berguncang membuat jarak kita kian merenggang. Percayalah aku masih menginginkan senyumanmu tertuju padaku.
Sayang, tidak ada yang seperti kita sebelumnya, tidak ada yang sebahagia kita, kita yang paling bahagia.
Kenapa kau enyahkan aku tiba-tiba? Sayang, aku percaya kita masih saling membutuhkan.
Kenapa kau dorong aku sejauh-jauhnya darimu?
Aku masih percaya kau tak dengan seluruh tenagamu saat mendorongku.

Aku percaya, aku percaya, aku percaya... Pada apa yang kukatakan pada diriku sendiri agar kamu terlihat benar dibenakku. Aku percaya pada kepercayaan yang kurangkai dan kutanamkan pada hatiku.
Aku percaya suatu hari nanti kita bertemu kembali dalam keadaan yang lebih baik lagi.
Tapi sekali lagi, aku percaya pada kepalsuan yang kubuat sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar