Jumat, 09 Oktober 2015
Angin Malam Hari
Aku menulis ini ketika air mataku telah mengering, ketika aku telah diam dari sesenggukan tangisanku. Karena merindukan sosokmu segila ini. Aku berteman kelam dan sendu.
Tadi, saat aku pulang dari pekerjaanku, diatas sepeda motorku, aku, di bawah kecepatan 40km/jam melihat bagaimana lembabnya jalan raya, betapa dingin angin malam yang menabrak wajahku. Aku melihat disisi kananku, tak ada seorangpun. Dulu, iya, tak henti-hentinya dan tak bosan-bosannya aku membahas masa lalu selama itu masih tentangmu. Harusnya di sebelahku, ada kau. Bertukar gelak tawa di tengah dinginnya susana setelah hujan. Kau akan rela mengantarku pulang dahulu padahal arah rumah kita jelas-jelas berbeda dan kita membawa kendaraan masing-masing. Aku masih bisa menggambarkan senyummu kepadaku yang kini sudah dimiliki seutuhnya oleh orang lain. Aku ingat jelas bagaimana kamu akan selalu menempatkanku pada sisi kirimu. Aku rindu saat itu, aku nyaris menangis kembali menuliskan kata demi kata untuk mengingat bahagianya kita pada saat itu
Suatu hari, saat aku benar-benar gundah dengan keadaan kita yang selalu seperti itu. Kau mengikatku dengan tambang besar yang kau namakan 'harapan' dan aku tak mempunyai belati untuk memutuskan simpul harapanmu. Aku tak berdaya pada apapun yang berkaitan padamu. Hari demi hari kujalani dengan ketakutan menyelubungi hatiku, takut jika kau akan pergi dariku, takut jika suatu hari aku tak lagi istimewa bagimu, takut jika kau memang benar-benar bukan untukku, ketakutan yang paling menghatuiku adalah aku takut jika aku bukanlah bagian tulang rusukmu yang hilang.
Hari itu, adalah hari yang paling kutakuti. Tiba. Pengabaian demi pengabaian yang kudapatkan darimu, kelembutan yang selalu kau berikan padaku sedikit demi sedikit menghilang. Hari dimana aku melihatmu menjadi orang lain, bukan kau yang selalu penuh kasih kepadaku. Menunjukkan padaku betapa tampannya kau ini, betapa hebatnya kau ini. Menggoda wanita tepat dihadapanku. Memperjelas kabar burung yang kudengar dari semua orang mengenai dirimu. Mulanya aku menepis mereka semua, dan hari itu kau malah memperjelas semuanya.
Di malam dengan udara dingin menggigit kulitku, aku, setelah melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi, menekan emosi, menelan kekecewaan dan menyembunyikan tangis. Di area parkir kendaraan bersiap pulang ke rumah, sendiri. Iya, karena sudah lebih dari seminggu tidak ada yang menungguku pulang di dekat basement gedung dan mengantarku pulang seperti biasanya. Inikah titik akhir kebosananmu padaku? Di perjalanan, titik-titik kecil air hujan menyentuh wajahku, aku menyeka sekilas, namun kini aku tak tahu dan tak bisa membedakan mana air hujan dan mana air mata. Aku tersayat terlalu dalam. Luka bernanah yang menganga di dalam hatiku. Inikah kau yang sebenarnya? Inikah aku dimatamu? Inikah kita? Inikah akhir dari kita? Bagaimana bisa semudah ini kita berakhir? Jadi, selama ini hanya aku yang berjuang untukmu?
Sesuatu menelusup dan membuatku sesak dengan teramat. Ditengah jalan, menangisimu yang telah pergi dariku. Aku ingin meraung seperti anak kecil tapi aku tak segila itu. Aku menutup kaca helmku yang gelap lalu menangis di dalam sana. Menahan sekuat tenaga agar suaraku tak menggelegar keluar. Aku sakit! Teramat sakit! Angin malam tak pernah sedingin ini, biasanya ada tawamu yang menghangatkanku di sebelahku, biasanya ada suaramu yang memastikan aku pulang sampai di rumah. Aku menoleh ke sisi kananku, hanya jalanan lembab setelah diguyur hujan. Hanya motor-motor dan mobil yang menyalipku secara brutal. Aku membekap wajahku menekan tangisan dan air mata agar tak menjadi-jadi karena menyadari tak ada kau lagi disisiku, tak ada lagi.
Mulai hari ini aku akan pulang sendiri sedingin apapun angin malam hari.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar