Jumat, 09 Oktober 2015

Thanks...





       Suara gemuruh manusia beberapa menit yang lalu menghilang seiring angin musin panas melewati garis hidungku. Ribuan orang duduk di tribun dengan rapi, aku melihat kebanyakan dari mereka sedang mengipaskan kipas kecil tepat di depan wajah mereka, menanti garis finish disentuh oleh motor seseorang. Dengan harap-harap cemas aku juga sedang berdoa agar kekasihku yang menyentuh garis putih untuk yang pertama kalinya. Iya, dia Tuan tampan bertubuh tinggi menjulang dengan hidung prosotan dan rambut tebal yang sering kuacak-acak. Tunggu, garis bawahi ini. Aku sebenarnya juga tidak mengerti harus bagaimana untuk menyebutkan ini, mungkin dia adalah kekasih gelapku, atau mungkin aku yang sedang disembunyikan olehnya. Kami menjalin hubungan dibelakang semua orang dengan keyakinan kita akan saling setia. Tapi, itu semua sebenarnya omong kosong, dinamakan ‘setia’ apa seperti ini? Ia tau aku punya kekasih dan akupun tau dia juga punya kekasih, kita mengingkari janji setia kami pada pasangan untuk mendapat kebahagiaan yang tidak bisa diberikan pasangan kami. Dia belum pernah melihat seperti apa wajah kekasihku, akupun begitu padanya. Dari kejauhan tampak empat motor besar berjajar memperebutkan posisi paling depan, kemudian dibelakang mereka baru saja muncul belasan motor besar lainnya. Aku melihat kekasihku berada di posisi nomor dua dari depan. Aku mengenal betul bentuk tubuhnya walau dilapisi jaket setebal itu. Dia berbelok pada tikungan besar dan mampu merebut posisi paling depan. Dia Kyuhyun-ku.
         Garis finish di depan mata, dengan mudah dia melewati laki-laki pengibar ‘bendera catur’ di sebelah garis finish. Membuat bendera besar itu berkibar karena kencang dari motornya. Dia menang. Bersamaan dengan itu suara gemuruh pendukungnya bersorak tak keruan. Kyuhyun-ku menang.


         “Jika besok aku menang, tunggu aku disuatu tempat. Aku akan menghampirimu dan merayakannya bersamamu.”


         Aku turun dari tribun bersama puluhan pendukung yang ingin memberinya selamat. Aku masih menjaga jarak dan melihat Kyuhyun melepaskan helm besarnya, membuat rambut coklat karatnya berantakan dan berkilau karena sinar matahari. Aku tersenyum seorang diri karena turut bahagia atas kemenangannya. Merapatkan kedua telapak tanganku seolah aku akan dihampiri olehnya di hadapan umum. Satu persatu orang mendekatinya dan pada akhirnya Kyuhyun tak nampak di tengah kerumunan orang-orang itu, tapi aku masih bisa sayu-sayup mendengar gelak tawanya. Ketika para manusia mulai merenggang dan aku menemukan sosoknya, sekejap kulihat matanya menemukanku dan beralih lagi pada seseorang yang datang untuk menjabat tangannya. Aku tak tahan ingin sekali mendekati dan memeluk atas kebahagiaannya. Melihatnya dari kejauhan seperti ini rasanya…
         Baru saja aku memasukkan niat pada otakku untuk menghampirinya, dari arah kanan Kyuhyun, seseorang berwajah berseri-seri menghampirinya. Rambut hitam pekat, lurus dan kelihatannya sangat lembut, membingkai wajah tirus dan cantik. Aku mengenali wajah itu, Tiffany Hwang. Teman satu bangku-ku di Universitas. Sahabat terbaik yang pernah kumiliki. Seseorang akan sangat beruntung jika mempunyai sahabat sebaik Tiffany, mungkin di kehidupan sebelumnya dia adalah seorang malaikat dari langit yang melakukan kesalahan kemudian diturunkan ke bumi. Tiffany mempunyai hati selembut madu, mungkin juga dia adalah type wanita yang akan menangis melihat bunga yang ditanamnya layu. Aku melihat lengannya menguntai dan menggandeng lengan kekar Kyuhyun. Hei, laki-laki itu bukankah milikku? Dengan senang hati wajah Kyuhyun menunduk untuk mendapatkan ciuman dari bibir berlipstik pink muda. Keduanya tersenyum di hadapan orang-orang seolah ini adalah hari pernikahan mereka. Aku masih terbujur kaku, mungkinkah nyawaku baru saja lepas dari ragaku? Milyaran wanita di bumi ini, kenapa harus gadis sebaik itu? Haruskah aku tetap menunggumu di suatu tempat agar kita bisa merayakan kemenanganmu bersama? Hatiku anjlok sampai ke dasar perut melihatmu mengecup puncak kepala Tiffany. Apa aku sekarang ini? Sampah? Lelucon bagimu? Bahkan saat ini ia benar-benar melupakanku, bukankah beberapa saat lalu dia melihatku? Benar-benar tak ingatkah aku ada di sekitarnya saat ini?
         Aku tak kuasa, semua orang dengan senyum melebar diwajahnya sementara aku dengan wajah kusut yang setengah mati menahan rasa sesak yang mengganjal di tenggorokanku. Kyuhyun dan Tiffany? Mereka dua orang yang mempunyai posisi penting dihidupku. Kenapa mereka? Aku membalikkan tubuh dan berjalan mengikuti tapak demi tapak jalanan. Aku ingin berlari dengan kencang dan menangis sekeras-kerasnya sampai kehabisan tenaga. Aku tau ini pasti akan terjadi, tapi kenapa harus dengan gadis itu? Tuan aku terluka cukup parah, bahkan tanpa kau menyentuhku sedikit saja. Kaki dan hatiku tak berjalan pada satu arah, sekejap aku tak berdaya menapaki tanah. Tertunduk bagai seseorang yang paling bersalah. Mengatur sedemikian rupa perasaanku agar tidak berpengaruh pada raut wajahku. Mempertahankan air bening tetap ada di dalam kelopak mataku, agar hidungku tak segera memerah karena kesedihan yang luar biasa menusuk relung hatiku. Ada apa dengan udara di sekitar sini? Aku seperti berebut oksigen dengan semua orang. Begitu sesak dan.. entahlah!
         “Nara.” Aku mengangkat dagu perlahan, seseorang memanggil namaku. “Kenapa bisa ada disini? Bersama siapa?” Oh, dia. Kekasihku, Cho Seung Hyun. Laki-laki sopan dengan senyum khas yang paling aku sukai. Aku juga tidak bisa percaya bahwa aku sedang menduakan laki-laki yang terlalu baik ini. Hei, bagaimana bisa dia ada di sini? Harusnya aku yang bertanya seperti itu? Bukankah waktunya terlalu berharga untuk berada di tempat seperti ini. Dia orang yang cukup sibuk. “Ayo ikut aku, kukenalkan pada seseorang.” Aku tak kuasa melawan. Seung Hyun menggandeng tanganku dengan lembut, dia memang selalu seperti ini. Aku adalah hidupnya. Berjalan melewati beberapa kerumunan dan memastikan aku masih baik-baik saja dalam gandengannya. Aku tidak akan memakan apapun yang akan dibelikannya untukku jika dia ingin mengajakku untuk makan siang kali ini. Kedua pasang kaki Seung Hyun berhenti membuatku turut berhenti di belakangnya. Aku masih menunduk menyembunyikan wajahku pada semua orang. Aku berpikir, sepertinya wajahku masih belum cukup normal untuk ‘keadaan-hati-yang-sedang-baik-baik-saja’.
         “Jung Nara? Sedang apa disini?” Tunggu, bukankah ini suara Tiffany? Tiffany?! Ini suara Tiffany! Aku mengangkat dagu segera dan melihat mata Tiffany menyipit cantik karena senyuman di depanku. Manik mataku melihat telapak tangannya terpaut pada seseorang—kekasih gelapku. Kyuhyun.
         “Fany? Aku..” Aku melihat Kyuhyun hanya menatap ke arahku, seperti tak ada yang lain yang bisa tatap.
         “Kalian saling kenal?” Tanya Seung Hyun.
         “Dia sahabat terbaik yang ada di dunia ini, kak, tanpanya aku seperti Tiffany tanpa kebahagiaan.” Aku hanya bisa tersenyum simpul saat Tiffany memeluk tubuhku erat dan singkat.
         “Ooh, well, Kyu, ini Jung Nara, Kekasihku. Penulis lho, memang ini baru pertama kali kukenalkan kekasihku padamu. Kau pasti belum kenal kan? Cantik kan dia?” Aku sangat terkejut dan tergores begitu dalam ketika Kyuhyun mengulurkan tangannya di hadapanku.
         “Belum kak, aku belum pernah mengenalnya. Aku Cho Kyuhyun, senang bertemu denganmu. Aku adik dari kekasihmu. Apa kakak kandungku bersikap baik padamu?” Apa? Kakak? Kandung? Mereka berdua? Kyuhyun memberi tekanan nada saat menjelaskan posisi Seung Hyun dalam daftar keluarganya. Aku melihat otot pada pipi Kyuhyun sedikit gemetar, seperti menahan gemertak gigi yang ada di dalam mulutnya. Dari bulat matanya aku juga bisa melihat amarah dan kekecewaan tak dapat dipisahkan di dalam dirinya saat ini. Wajahnya tenang tapi ada kebencian yang dipancarkan kepadaku. Aku menjabat tangannya seolah kami memang baru saja bertemu di hari ini, lalu apa artinya ciumanmu tadi malam jika hari ini kita kembali menjadi orang asing. Aku bisa melihat lengan Tiffany melingkari pinggul Kyuhyunlebih erat, mendekatkan tubuhnya pada tubuh yang memelukku kemarin malam.
         “Aku Jung Nara kekasih kakakmu, dia memperlakukanku seperti seorang putri salju yang tidak kunjung bangun dari tidur, lembut dan menjagaku. Tiffany adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki, mungkin aku rela menukarkan apapun yang kumiliki untuk menolongnya jika dia sedang berada dalam kesulitan. Apa dia memperlakukanmu dengan baik?” Aku menekankan nada pada saat menegaskan posisi Tiffany dihidupku dan kini Kyuhyun terlihat memancarkan rasa bersalahnya tapi aku juga masih bisa melihat ada raut kekesalan yang membingkai rasa bersalahnya.
         Kyuhyun tersenyum kecut. “Tentu saja.” Jawabnya. Tuan, rasanya aku tidak sanggup lagi melihat wajahmu.
         “Mungkin tiga bulan lagi aku akan bertunangan dengan Nara. Kalian segeralah menyusul.”Aku dan Kyuhyun melotot hampir bersamaan. Aku tidak pernah mendengar rencana ini sebelumnya, apalagi Kyuhyun.
         “Tenang kak, mungkin sebulan setelah pertunanganmu aku akan melamar Fany.” Ujarnya angkuh membuat hatiku semakin teriris-iris.
         “Benarkah? Aku tidak tau kau bisa semanis ini untuk memberi kejutan?” Tanya Tiffany sembari mencubit mesra pipi kesukaanku.
         “Aku harus pergi, aku ingat ada pertemuan dengan klien setelah makan siang. Selamat atas kemenanganmu yang entah keberapa kali ini, Kyu.” Seung Hyun menepuk bahu adiknya.
         “Terimakasih sudah datang kak, dengan membawa… kekasihmu. Kau pandai memilih kekasih, seperti yang kau ceritakan selama ini, dia cantik dan sepertinya baik hati.” Aku melihat! Aku melihat senyum Kyuhyun tak pernah semenakutkan ini. Hatiku hancur entah ke berapa kali mendengar Kyuhyun menyebutku seperti itu.
         “Fany, aku pergi dulu. Sampai bertemu dikampus. Kau pandai memilih laki-laki. Kyuhyun tampan dan berprestasi, sepertinya dia juga laki-laki yang… setia.” Kyuhyun tersenyum malas mendengar ucapanku.

         Setelah Tiffany memelukku beberapa saat, Seung Hyun menggandeng jemariku tapi aku melepaskannya, lebih memilih untuk merangkul pinggulnya, sama seperti yang dilakukan Tiffany pada kekasih gelapku. Aku berjalan dengan pandangan kosong menuju tempat parker kendaraan, sementara Seung Hyun mengoceh sesuatu yang aku yakin sebagian besar adalah mengenai acara pertunangan yang diutarakannya beberapa saat lalu. Jujur, aku tidak peduli. Aku merasakan sesuatu bergetar di dalam saku, ponselku. You got one message! Tanpa sepengetahuan kekasihku, aku membaca pesan masuk.


         From : Kyuhyun
         “Kenapa harus kakakku?”

         To : Kyuhyun
         “Kenapa harus sahabat terbaikku?”


         Tuan, terimakasih untuk segala kebahagiaan yang telah kau berikan padaku secara diam-diam, secara rahasia. Terimakasih telah menyembunyikan aku di balik semua kesuksesanmu. Terimakasih atas apa yang kau ucapkan hari ini, itu memperjelas semua jika akan memang berakhir pada hari ini. Tuan, terimakasih, hari ini kita saling menyakiti…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar