Dentuman kecil kecipak air bersatu dengan kawannya menjadi genangan kotor. Beberapa detik yang lalu ia sesuci embun sebelum menjatuhkan dirinya di kumpulan debu lalu membuat dirinya terseret dalam kepekatan. Air hujan yang selalu kubenci datang lagi. Dingin, tajam, dan suara yang membengungkan telingaku.
Bagaimana bisa aku membenci kesejukan yang seperti ini, duduk menyembunyikan diri di hangatnya pakaian tebal. Teras rumah yang tenang, yang damai, yang selalu kusukai. Melamunkan sesuatu yang seharusnya kusudahi sejak dulu tapi tak mampu.
Bagaimana bisa mampu selama itu masih mengenai dirimu?
Bagaimana bisa mampu selama itu masih tentang 'kita', biar lebih kuperjelas, sebenarnya 'kita yang dulu'.
Apa salahnya aku mengenangmu? Kamu hidup dalam otakku, bermain-main dalam anganku, singgah dalam mimpiku, lalu bisa apa aku selain mencurahkanmu dalam tulisan abadiku?
Sebelumnya, terimakasih karena telah benar-benar menghilang dari pandanganku, terimakasih karena tak kau izinkan lagi aku memandangmu meskipun itu dari balik tubuh kekasihmu yang sedang kau dekap, dari kejauhan, dari kepahitan yang harus kutahan mengingat kau tak lagi seutuhnya milikku. Sekarang kau benar-benar pergi, tak lagi disekitarku, tak lagi bisa kupandangi, bagamana ini? Harusnya aku berpesta dalam hati karena akan sangat mudah untuk lepas dari belenggu yang kau rantaikan padaku, tapi bagaimana jika nanti aku merindukanmu? Bagaimana jika nanti aku ingin melihatmu? Bagaimana jika aku hanya sekilas saja ingin melihatmu tersenyum?
Bagaimana jika nanti aku gila karena merindukanmu?
Aku bahkan tidak tahu apalagi yang harus kutulis untuk menjelaskan bagaimana aku bisa serindu ini padamu. Angin berhembus berlomba-lomba membuatku menggigil kedinginan tanpa cita untuk bersamamu lagi. Apa kabar tentang 'aku hanya akan bersamamu' satu tahun yang lalu? Hilangkah bersama angin yang telah melewatiku beberapa detik yang lalu? Apa kau tau rasanya.. Haahh, beban sesak yang kupikul sendiri untuk satu tahun terakhir ini? Aku sudah jatuh padamu, jatuh sejatuh-jatuhnya. Dan kau berpaling, tanpa menoleh untuk kedua kali kau berlari secepat mungkin, sejauh mungkin agar aku tak bisa mengejarmu. Aku menemukan jejakmu, tapi aku tak bisa menemukanmu. Aku tak mampu mengikutimu. Jadi ini yang kulakukan satu tahun ini, mengikuti jejakmu. Iya, hanya mengikuti jejakmu. Aku tak akan pernah bisa bertemu denganmu, tak akan pernah bisa mengikutimu, tak akan pernah sampai padamu.
Mencintaimu dari jauh, sangat jauh.
Terus mengikuti jejakmu sembari terseok, tak apa. Selama jejakmu masih ada, aku tau kau masih baik-baik saja. Dan ketika aku tak lagi menemukan jejakmu, aku akan tersenyum dan menyadari bahwa saat itulah aku harus berhenti untuk mengikutimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar