Jumat, 09 Oktober 2015

Pergilah, dan jangan pernah kembali!


Apa maksutmu sebenarnya? Bukan karena aku masih sendiri saat ini, aku terus saja menunggumu. Tidak. Itu aku yang dulu, yang masih bodoh menungguimu tanpa harapan sedikitpun darimu. Aku yang dulu terjerembab begitu dalam di gelapnya senyum semu yang kau punyai. Aku yang dulu yang begitu ingin memilikimu. Itu cinta. Cinta yang begitu egois, sifatnya harus memiliki. Aku tak setenang sekarang. Darah gadis muda masih mengalir deras di dalam tubuhku. Aku menggebu-gebu menginginkanmu saat itu. Ketika aku merindumu dengan gila, dan aku menyadari kau tak ada disisiku, aku ingin sekali menikam sebuah belati hingga tertusuk dalam ke pulung hatiku.

Begitu kau enyah, aku memukul kepalaku sendiri. Menyadarkan jiwaku sendiri, bahwa kita tak akan pernah menyatu. Kita tak akan bisa. Aku mulai mempelajari makna kata ‘sayang’ yang mendengarnya saja membuatku merasa ingin mual. Namun, tak seburuk perkiraanku. Rupanya ’sayang’ lebih tenang, tak seliar cinta. ‘Sayang’ lebih ikhlas dan tulus. Membiarkanmu berbahagia dengan pilihanmu rasanya nyaman. Membuatmu tak merasa terbebani oleh hadirnya diriku membuatku merasa lega.

Tak usah datang lagi! Aku sudah merelakanmu! Salahmu kali ini, kenapa bertubi-tubi mengemis cinta padaku. Setelah kau pergi darinya, setelah dia dengan pria lain, setelah kalian mulai bosan dengan hubungan kalian, atau apa? Setelah apa? aku bukan bangku kosong yang dengan senang hati dijadikan sandaran hati laki-laki sepertimu. Aku ingin memiliki perjalanan yang sama bahagianya sepertimu dulu. Aku tak ingin berkelut denganmu lagi. Kenapa! Kamu selalu datang lagi, lagi, dan lagi! Aku muak denganmu! Biarkan aku dengan yang lain. Biarkan aku berbahagia sendiri dengan kehidupanku yang sekarang.

Belajarlah mengenal kata ‘sayang’. Belajarlah, lakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan beberapa tahun yang lalu. Hingga aku bisa lepas darimu. Maksutku, benar-benar lepas! Kenapa seperti ini terus menerus. Jika tidak dengannya, kau akan berlari kearahku. Jika tidak denganku, kau akan kembali padanya. Laki-laki macam itu. Laki-laki macam apa kau! Apa kehidupanmu hanya ada aku dan dia? Aku saja muak denganmu.

Pergilah, dan jangan pernah kembali!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar