Aku sudah
mencoba untuk tidak peduli lagi denganmu, aku berusaha memisahkan dunia kita dan tanpa
kamu sadari kamu terus menyatukan dunia kita. Kamu selalu membayang bayangi aku, tahukah kamu rasanya
jadi aku yang seperti ini?
Jangan
genggam jemarinya seperti itu, jangan tersenyum dengannya seperti itu, aku
melihatnya. Aku sudah
berusaha berpura pura membodohi diriku sendiri seolah olah aku tidak melihat
apapun,
harusnya aku
yang sedang berada di posisi wanita itu,
Tahukah kamu
rasanya jadi aku yang seperti ini?
Setiap aku
terpejam, tidak, bahkan
setiap mataku berkedip, pertama kali adalah wajahmu. Sadarkah
kamu bahwa kamu masih nomor satu di bayanganku?
Tahukah kamu
aku sedang sangat merindukanmu?
Aku ingin
dicintai lagi olehmu, seperti dulu.
Aku menguak
terus menerus kenangan yang telah kita lewati, aku tau ini
salah, hanya saja
kamu tidak tahu bagaimana rasanya jadi aku yang seperti ini.
Seingatku,
terakir kali kamu meninggalkan senyuman padaku dan pelukan sekedarnya lalu
selamat tinggal terucap begitu saja dari mulutmu. Tahukah
sampai sekarang masih sakit rasanya?
Dadaku masih
sesak jika teringat bagaimana dulu caramu memperlakukan aku dengan hangat dan dadaku
akan lebih sesak jika bayangan saat kau melangkah pergi meninggalkanku itu
muncul kembali.
Bagaimana
detik detik saat kau melepaskan tubuhku dan melepas genggaman kemudian selangkah demi selangkah kau menjauhiku lalu ragamu semakin
menghilang dari pandanganku.
Sejak saat
itu aku berdoa kepada Tuhan agar aku tidak pernah sekalipun dipertemukan
lagi denganmu, akan lebih
sakit seribu kali lipat jika sedetik saja aku melihatmu lagi. Tapi aku
kalah dengan rasa rindu ini. Aku manusia biasa,
ada saatnya aku merindukan seseorang dan aku merindukanmu segila ini. Tak ada yang
bisa kulakukan selain bermain dengan angan anganku, membuka kembali nostalgia
yang selama ini kusimpan rapat rapat di dalam hatiku. Bahkan aku
tidak berani untuk membayangkanmu, karena aku
tahu jika aku membayangkanmu sebentar saja aku tidak akan bisa berhenti. Aku akan
terus membayangkanmu dan terus masuk dalam ruang nostalgia yang aku tidak
pernah tahu ada di mana dasarnya.
Aku tidak
akan bisa berhenti meskipun air mataku
sudah menetes, meskipun dadaku sudah sesak sampai tidak bisa bernafas.
Tahukah kamu
ruang nostalgia ini bisa saja membunuhku perlahan,
sesakit
inikah merindukanmu?
Aku tidak
memilikimu, aku hanya sedang merindukanmu.
Aku tidak
pernah meminta ini kepada Tuhan, bukan cinta seperti ini yang ingin kulalui
tapi Tuhan mempertemukan kita.
Aku belum
bisa mengambil hikmah dari ini semua, karena aku masih sangat mencintaimu,
kamu masih yang paling istimewa.
Tidak apa
apa, dari awal memang salahku yang masih mengkhayalkanmu, yang masih saja
bermain di dunia nostalgia, yang masih saja merindukanmu, yang masih saja
mencintaimu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar